Ratusan kios di sepanjang Jalan protokol Batulicin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan beberapa hari terakhir kekurangan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium karena terbatasnya pasokan dari SPBU.
       
Hampir setiap hari hingga Selasa (23/11) kios BBM di daerah tersebut sejak pagi banyak yang tutup karena persediaan premium yang dijual habis dibeli konsumen.
       
Seorang pemilik kios H. Ridwan mengatakan, terbatasnya jumlah premium di sejumlah SPBU membuat para pengecer sulit mendapatkan atau membeli bahan bakar tersebut.

Pembelian premium yang biasanya diperoleh antara 25-75 liter untuk sekali antre sekarang tidak bisa dilakukan lagi.
       
"Petugas SPBU hanya mengizikan kami membeli premium lima liter sekali antre kalau untuk jumlah banyak seperti biasanya sementara waktu belum diizinkan," katanya.
       
Ia menambahkan, untuk menyiasati agar dapat membeli premium dalam jumlah agak banyak tidak sedikit pemilik kios yang harus rela antre dan datang beberapa kali ke SPBU.

Hal tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan premium yang sudah dibeli ketempat yang agak jauh dari kawasan SPBU supaya tidak ketahuan petugas yang bersangkutan.

Hal yang sama juga dialami pemilik kios lain Raudah (30). Terbatasnya jumlah BBM di sejumlah SPBU membuatnya terpaksa antre hingga sampai berjam-jam demi mendapatkan beberapa liter bahan bakar tersebut.
       
"Untuk mendapatkan bensin dari SPBU kami harus rela antre hingga menjelang tengah hari kalau sudah dibawa pulang tidak sampai sore barangnyapun langsung habis dibeli konsumen," katanya.
       
Raudah mengaku, tebatasnya jumlah premium masih tidak berpengaruh terhadap harga jual ditingkat pengecer yang relatif stabil antara Rp5.500-Rp6.000 perliter. 

Secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Tanah Bumbu Abdul Gafar mengaku belum tahu secara pasti penyebab terbatasnya pasokan BBM disejumlah SPBU.

Pihaknya berjanji segera berkoordinasi dengan masing-masing pemilik SPBU daerah tersebut guna mengantisipasi terjadinya gejolak yang muncul dimasyarakat.
       
"Terjadinya antrean panjang disejumlah SPBU terjadi sejak beberapa hari lalu. Sekarang baru kami rencanakan berkoordinasi dengan pihak pengusaha SPBU termasuk Pertamina guna mengatasi masalah tersebut.

Menurut dia, persoalan bahan bakar jenis premium bersubsidi adalah masalah nasional.*7*


: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026