Aktivitas perajin lupu (tanaman sejnis rotan) di Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) kini terus berkurang sehingga cukup merisaukan.


  Seorang perajin, HM Arsyah kepada pers di kampungnya, Rabu mengakui kian berkurangnya aktivitas mereka setelah kian sulitnya bahan baku berupa lupu di hutan.

  Selain itu kian berkurangnya pesanan kerajinan tersebut oleh pedagang barang cendramata di Denpasar Bali, katanya.

  Ia menjelaskan produk Kerajinan lupu ini hanya dilakoni warga di tiga desa yakni Desa Hambuku Raya, Hambuku Hulu, dan Tatah laban.

  Menurutnya, hilangnya bahan baku lupu di hutan setelah kian merebaknya pembukaan lahan perkebunan sawit yang menghabiskan tanaman lupu di hutan.

  "Warga yang dulu berjualan bahan baku Lupu yang mencarinya ke dalam hutan, kini banyak berpindah kerja menjadi buruh perkebunan kelapa sawit" terang Arsyad.

Akibat berkurangnya penjual bahan baku Lupu, otomatis harga bahan baku Lupu pun menjadi mahal.
Dulu, Kata Arsyad harga 100 bilah lupu dibeli perajin seharga Rp 50 ribu, tapi kini harganya naik menjadi Rp80 ribu.

  Hasil kerajinan selain dijual ke pedagang pengumpul, perajin setempat juga bisa memasarkan langsung ke pasar kerajinan di Amuntai ibukota kabupaten setempat.

  Namun, cerita Arsyad pemasaran terbesar datang dari pesanan pengusaha di Pulau Bali.

  Maka kalau ada pesanan besar dari Bali, kata Arsyad lagi, perajin akan berkelompok memproduksinya agar barang kerajinan lupu yang dihasilkan cepat selesai sebanyak yang dipesan pengusaha Bali.

  Tapi entah kenapa, kata Arsyad sejak peristiwa bom Bali meletus pesanan mulai berkurang, Informasi yang ia dapat dari pengusaha Bali karena wisatawan yang datang ke toko dia memang berkurang.

  Kata Arsyad, di Bali ada satu toko besar di daerah Jembaran yang khusus menjual kerajinan lupu asal HSU yang selama ini memesan langsung ke perajin lupu di tiga desa tersebut.

Diakui jika hasil kerajinan lupu yang mereka jual ke Bali belum sampai tahap finishing karena di Bali akan di finising sendiri oleh pengusaha perajin setempat sesuai warna, corak, dan motif yang disukai oleh para wisatawan.

Akibat bahan baku mahal dan pangsa pasar yang menggiurkan ke Bali mulai berkurang, para perajin muda juga beralih minat kebidang usaha lain.

"Sekarang anak-anak muda desa kurang menekuni kerajinan lupu yang diwariskan oleh orang tua mereka" kata Arsyad.

  Para Perajin lupu di Desa Hambuku Raya, Hambuku Hulu dan Tatah Laban hanya pasrah jika produk kerajinan mereka ini tergusur arus produk kerajinan lain yang berkembang saat ini di HSU, seperti kerajinan eceng gondok yang mulai menembus pasar luar negeri, karena bahan baku eceng gondok sendiri mudah didapatkan di HSU/Edy/Humas/D



Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026