Amuntai, Kalsel (ANTARA) - Peningkatan hasil bumi di hulu wajib diimbangi dengan stabilitas daya beli masyarakat di hilir. 

Di tengah fluktuasi harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan, jajaran dinas terkait bergerak menggelar operasi pasar murah bersubsidi secara maraton.  

Diawali pada Selasa, 3 Maret 2026, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskuperindag) menggelar operasi pasar murah di halaman Masjid Jami Al-Ausath, Desa Tambalang Raya, Kecamatan Sungai Tabukan. 

Langkah serupa dilanjutkan pada Selasa, 10 Maret 2026 di Desa Pihaung, Kecamatan Haur Gading.

Di Desa Pihaung dan Desa Tambalang Raya, Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) menyalurkan ratusan paket sembako murah berisi minyak goreng dan gula pasir dengan harga hanya Rp53.000 per paket. 

Langkah ini didukung penuh oleh kader PKK daerah dan mitra distributor besar untuk memastikan pasokan pangan warga aman.  

Tak ketinggalan, pada Senin, 16 Maret 2026, Dinas Ketahanan Pangan HSU ikut mengambil bagian dengan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di halaman Mapolres HSU, Kecamatan Amuntai Tengah. 
Beras dari Bulog, telur ayam, bawang, hingga produk UMKM lokal dijual dengan selisih harga yang signifikan dibanding pasar tradisional. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Siti Fikriyah menjelaskan bahwa rangkaian intervensi pasar ini efektif menekan laju inflasi daerah sekaligus mengamankan akses pangan berkualitas bagi lapisan masyarakat kurang mampu.  

Rawat ruang hidup petani.

Segala capaian di sektor pertanian dan ekonomi tentu akan sia-sia jika ruang kelola lingkungan hidup diabaikan. 

Karakteristik lahan gambut HSU yang mencapai 22.000 hektare menyimpan potensi kerawanan tinggi saat musim kemarau tiba. 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rawa merupakan momok yang bisa melahap habis areal pertanian warga dalam sekejap.  

Pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyusun dokumen kontijensi khusus karhutla lahan rawa. 

Karakteristik medan rawa yang sulit dijangkau menuntut kesiapsiagaan dan edukasi literasi bencana yang kuat di tingkat tapak.  

Kesadaran ekologis ini ditanamkan secara kultural melalui Gerakan Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) yang dipimpin langsung oleh duet Bupati Sahrujani dan Wabup Hero Setiawan di Desa Telaga Silaba, Kecamatan Amuntai Selatan, pada Jumat, 6 March 2026. 

Aksi gotong royong massal membersihkan saluran air dan lingkungan desa ini menjadi simbol kembalinya budaya kebersihan di bumi HSU.  

Kini, dari riuh rendah mesin ekskavator amfibi yang membersihkan kanal hingga kepulan asap mesin pencacah pakan ternak, geliat pembangunan di Hulu Sungai Utara menunjukkan arah yang terang. 

Pertanian lahan rawa bukan lagi sekadar cara bertahan hidup di tengah kepungan air, melainkan sebuah ekosistem modern yang terintegrasi, mandiri, dan menyejahterakan masyarakatnya. 

Warisan masa lalu sedang dipugar, potensi lokal sedang dikelola, dan masa depan ketahanan pangan sedang diukir dengan kerja nyata di atas hamparan rawa.



Pewarta: Alya Salwa Ramadhina L P
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026