Hulu Sungai Tengah Kalsel (ANTARA) - Anak-anak pedesaan, Kalimantan Selatan (Kalsel) masih berburu tanda tangan, usai shalat Jumat, karena masih suasana Ramadhan 1447 Hijriah, terutama bagi kaum Muslim yang menggunakan "ru'iyatul hilal" (melihat bulan berdasarkan penerawangan mata).
Pantauan Antara Kalsel, Jumat melaporkan, anak-anak Desa Aluan Mati, Kecamatan Batu Benawa atau pinggiran Pegunungan Meratus wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ramai memburu tanda tangan.
Tanda tangan yang mereka (anak-anak) buru guna pengisian buku laporan aktivitas Ramadhan 1447 H tersebut khatib dan imam, usai Shalat Jum'at di Masjid Su'ada Desa Aluan Mati (dahulu bernama Desa Aluan Sumur, kemudian pemekaran menjadi dua desa).
Khatib dan Imam Shalat Jum'at masing-masing Supian serta Parisi terpaksa bertahan atau sebelum pulang melayani permintaan tanda tangan dari anak-anak yang juga jamaah Masjid Su'ada tersebut.
Sementara Khatib Jum'at Supian dalam khutbah pertamanya berdorasi lebih kurang dua setengah menit cuma menyampaikan rukun khutbah, tak ada pesan lain, kecuali ajakan taqwa kepada jamaah (itupun dalam bahasa Al Qur'an).
Begitu juga Imam Shalat Jum'at Parisi pada raka'at pertama sesudah Fatihah membaca Surah Al Insyirah (pelapangan) dan raka'at kedua Surah At Tin (buah Tin).
Oleh karenanya Shalat Jum'at kali ini makan waktu terpendek di Masjid Su'ada yang sudah ada sejak seratus tahun lebih, yang kemudian pembangunan kembali tahun 1950-an, sebab masjid tua (terdahulu) terancam longsor karena tergerus "banyu baah" (air bah atau banjir).
Namun ulin (kayu besi) dari empat tiang guru bangunan baru masjid Su'ada tersebut hasil galian masyarakat secara gotong royong atas petunjuk dalam mimpi seorang warga setempat H Hasan (alm) atau orang dari Muhammad Ilmi Muhran, kini Ketua Pengurus masjid itu.
Sekedar mengingatkan, dalam ulin berdiameter lebih kurang satu setengah meter itu, warga mendapatkan "iwak kali" (sejenis ikan lili) warna kuning emas dan sempat dikurung dalam "galas gandang" (stoples besar), tapi sekitar tiga bulan hilang dengan sendirinya (tanpa ada yang tahu), kecuali setelah membuka kain kuning sebagai penutup ternyata iwak tersebut tak ada lagi.
Pewarta: Syamsuddin HasanEditor : Firman
COPYRIGHT © ANTARA 2026