Tapanuli Selatan (ANTARA) - Masjid Al-Ikhsan yang berada di Desa Garoga saat diperbaiki di Tapanuli Selatan, Selasa (17/2/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
"Ini keajaiban. Padahal kanan dan kiri masjid sudah hancur diterjang banjir bandang," kata seorang warga, Irwan Syaputra Hutabarat, saat menunjukkan masjid yang masih bertahan diterjang banjir bandang.
Ungkapan itu ia ucapkan ketika menceritakan sejumlah Rumah-rumah Tuhan yang masih bertahan, meski dihantam banjir bandang yang meluluhlantakkan tempat tinggalnya.
Tumpukan kayu, batu, pasir, dan material yang terbawa banjir bandang pada November 2025 di Desa Huta Godang, dan Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, masih tampak di sejumlah titik.
Material tersebut memang perlahan mulai diangkut oleh petugas dari BNPB, TNI, Polri, relawan, dan lainnya.
Rumah-rumah warga yang dahulu berdiri tegak, kini tampak luluh lantak. Suasana desa pun tidak seramai, seperti, sebelum ada musibah banjir bandang yang sangat dahsyat.
Warga, kini masih bertahan di tenda-tenda darurat dan rumah kerabat. Mereka banyak yang masih menggantungkan hidupnya dari uluran tangan para dermawan.
Di sisi lain banjir yang merenggut puluhan nyawa dan meluluhlantakkan desa masih membekas pada ingatan warga. Mereka masih terguncang ketika menceritakan detik-detik musibah yang mengerikan.
Suara serak, tetesan air mata, dan rasa sedih muncul, ketika mereka mengingat kejadian pada akhir November 2025. Meski dengan terbata-bata, mereka dapat bercerita dengan runtut kejadian memilukan itu.
Para penyintas juga masih tak percaya dengan keajaiban atau kehendak Sang Pencipta. Mereka heran terhadap keajaiban Tuhan. Karena meski desa hancur dan seperti tak bertuan, namun bangunan yang disebut "Rumah Tuhan" masih berdiri bertahan.
Rumah Tuhan
Rumah Tuhan yang dimaksud di sini bukan tempat Tuhan bersemayam. Rumah Tuhan yang dimaksud adalah tempat-tempat yang disucikan oleh umat beragama.
Seperti Islam biasanya menyatakan masjid dengan istilah Rumah Tuhan, begitu juga gereja pada agama Kristen, kuil untuk agama Budha, dan pura agama Hindu.
Pada musibah banjir bandang yang terjadi di Desa Garoga, dan Huta Goda, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, mengakibatkan sejumlah rumah, dan fasilitas umum rerata rusak parah, terutama di daerah yang dialiri luapan Sungai Garoga.
Sungai Garoga pada waktu itu menjadi "monster" yang menakutkan bagi warga Desa Garoga dan Huta Godang.
Sungai yang biasanya dimanfaatkan sebagai pasokan air bersih, pengairan pertanian, dan lubuk larangan (tradisi di Sumatera, di mana pada tradisi tersebut warga dilarang menangkap ikan atau biota lain di sungai dalam periode tertentu di lokasi tersebut), pada akhir November 2025 menjadi sumber bencana.
Desa Garoga yang menjadi daerah paling terdampak banjir bandang menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya musibah tersebut.
Dari peristiwa itu "Rumah Tuhan" masih berdiri kokoh bertahan menahan derasnya aliran sungai yang mengamuk karena kerusakan alam.
Seperti Masjid Al-Ikhsan yang berada di Desa Garoga. Sekeliling Masjid tersebut kini tidak ada lagi rumah yang berdiri. Rerata semua telah roboh karena tak mampu menahan banjir bandang.
Masjid Al-Ikhsan sempat terkepung oleh lumpur dan juga kayu gelondongan dari semua arah, namun setelah hampir tiga bulan, petugas berhasil membersihkan material yang sempat menutupi masjid.
Kini, "Rumah Tuhan" kembali dibangun oleh petugas yang sedang bertugas untuk memulihkan daerah yang kini masuk zona merah.
Bukan hanya Masjid Al-Ikhsan, keajaiban juga terjadi di Masjid Taqwa Muhammadiyah yang berjarak kurang lebih 300-500 meter, Masjid yang persis di belakang sungai tersebut masih tegak berdiri.
Padahal sekitar lokasi ketika dilihat dari aplikasi maps, kanan kiri dan depan masjid terdapat sejumlah rumah. Kini, hanya tinggal Masjid Taqwa Muhammadiyah yang masih bertahan, meskipun tembok belakang tepatnya di tempat imam roboh terbawa arus.
"Saya bersama keluarga sempat menyelamatkan diri di samping Masjid Taqwa. Saat itu air sangat deras dan menghancurkan desa," kata Khoiruddin, seorang warga Desa Garoga.
Tidak hanya di Desa Garoga, dua masjid yang berada di Desa Huta Godang, yaitu Masjid Raya Subulul Ubudiyah yang berukuran kurang lebih 15x15 meter persegi juga masih tegak berdiri.
Padahal sekeliling masjid juga sudah tak tampak permukiman yang rata dengan tanah. Saat ini, masjid tersebut sudah digunakan untuk beribadah oleh warga. Nasib serupa juga terjadi pada Masjid Taqwa Muhammadiyah Huta Godang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan mencatat terdapat 1.660 unit rumah terdampak bencana banjir dan tanah longsor, dan menewaskan 85 orang.
Selain mengakibatkan ribuan rumah warga rusak, bencana tersebut juga merusak 19 unit rumah ibadah, dan 23 unit sekolah.
Tidak hanya itu, infratruktur jalan, baik ruas jalan nasional, provinsi, kabupaten, hingga desa/kelurahan, juga rusak dan itu terjadi di 89 titik, sementara jembatan terdapat empat unit, dan kebun 27 hektare. Banjir bandang juga merusak ratusan hektare areal persawahan yang tersebar di 13 kecamatan di Tapanuli Selatan.
Data-data tersebut menunjukkan betapa kuatnya daya hantam bencana banjir bandang yang terjadi di Tapanuli Selatan pada akhir November 2025.
Pada saat bencana terjadi, pasti ada keajaiban Tuhan yang akan tampak, bukan hanya kali ini saja cerita dan kesaksian warga dituturkan, namun bencana sebelumnya pun terselip cerita serupa.
Editor: Masuki M. Astro
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rumah-rumah Tuhan yang masih bertahan
Pewarta: Khaerul IzanEditor : Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2026