Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan pengembangan pembibitan sapi potong di beberapa kabupaten untuk meningkatkan produksi peternakan wilayah tersebut.
Gubernur Kalsel Rudy Ariffin di Banjarmasin, Jumat mengatakan, pengembangan peternakan tersebut sebagai salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan daging daerah dan nasional.
Menurut Gubernur, pertumbuhan populasi ternak di Kalsel secara keseluruhan selama 5 tahun (2006-2010) cenderung meningkat, kecuali sapi perah dan kuda.
Sedangkan untuk pertumbuhan populasi ternak sapi potong ditargetkan 5 persen per tahun namun baru mencapai 4,01 persen.
Masih belum tercapainya target pertumbuhan ternak sapi tersebut terjadi karena beberapa masalah antara lain pemotongan ternak sapi/ kerbau betina produktif cukup banyak.
"Karena banyak sapi maupun kerbau betina yang dipotong sehingga mengganggu perkembangan populasi," katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah berupaya mencegah terjadinya pemotongan hewan betina tersebut melalui berbagai sosialisasi.
Selain itu juga mengembangkan bibit sapi lokal yang selama ini sebagian besar masih mengambil dari luar daerah.
Sementara itu, kata Gubernur, masih dijumpai beberapa kasus penyakit hewan menular yaitu Brucellosis, Jembrana, Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) dan Paratubercullosis, Bovine Viral Disease (BVD).
Selain itu juga terjadinya gangguan penyakit reproduksi, Avian Influenza (Flu Burung) dan Rabies.
Sebagaimana diketahui, Kalsel memiliki potensi besar untuk pengembangan peternakan terutama kerbau rawa yang berada di sebagian besar kabupaten di daerah kaya tambang ini.
Mengembangkan sektor peternakan tersebut, khususnya untuk kerbau rawa Kalsel mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian sebesar Rp32 miliar.
Kabupaten dan kota yang mendapatkan dana bantuan pengembangan peternakan tersebut adalah Tanah Laut sebesar Rp2 miliar lebih, Banjar Rp1,2 miliar, Barito Kuala Rp2,49 miliar, Tabalong Rp960 juta, Kotabaru Rp2,4 miliar, dan Tanah Bumbu Rp1,7 miliar.
Selain itu, Banjarmsin mendapat Rp500 juta, Tapin Rp1,4 miliar, Hulu Sungai Selatan Rp1,2 miliar, Hulu Sungai Tengah Rp1,6 miliar, Hulu Sungai Utara Rp1,7 miliar dan Kabupaten Balangan dengan nilai Rp2,052 miliar.
Kerbau rawa Kalsel berpotensi untuk terus dikembangkan melalui berbagai cara, antara lain dengan teknologi inseminasi buatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Kalsel Maskamian Anjam mengatakan, berdasarkan sensus ternak 2011, kerbau di Kalsel berjumlah 23.843 ekor.
Jumlah tersebut tersebar di Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Barito Kuala, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tapin dan Kabupaten Banjar./B*C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.