Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Gusti Yasni Iqbal, di Banjarmasin, Senin, mengatakan, ekspor rotan pada Januari - Juli 2009 sebesar 3,7 ribu ton dan pada 2010 periode sama menjadi 11,2 ribu ton.
Sedangkan nilai ekspornya, kata dia, naik sekitar 133 persen dari sebelumnya 4,7 ribu dolar AS menjadi 11,1 juta dolar AS.
Sayangnya, peningkatan volume maupun nilai ekspor rotan tersebut terjadi pada ekspor bahan mentah, sedangkan bahan jadi berupa kerajinan lampit justru turun drastis.
Sebagaimana diketahui, Kalsel sebelumnya dikenal sebagai importir lampit, karena tiap bulannya, ratusan ton lampit keluar dari daerah ini.
Banyaknya permintaan pengiriman lampit ke beberapa negara seperti Jepang dan China membuat industri lampit di Kalsel yang terpusat di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tumbuh subur.
Saat itu industri lampit menjadi tumpuan hidup ratusan rumah tangga di Kalsel khususnya di HSU.
Namun sayang, masa tersebut kini telah berlalu dan industri lampit HSU yang bertahan tersisa beberapa gelintir saja.
Kepala Dinas Perkebunan Kalsel, Haryono mengatakan, rotan yang diekspor ke beberapa negara merupakan rotan asal Kalimantan Tengah.
"Kalsel tidak memiliki perkebunan rotan sendiri, sehingga banyak didatangkan dari Kalteng," katanya.
Sebelumnya, staf Humas Kabupaten HSU Halidiyah mengatakan, pada 1987 jumlah usaha lampit rotan sebanyak 600 perusahaan, dan mampu memproduksi 800 ribu meter kubik per tahun.
Pada 2010, kata dia, industri tersebut tersisa 30 unit usaha dengan produksi 40 ribu meter kubik.
Industri anyaman rotan, kata dia, sebanyak 205 unit usaha dengan produksi 197 ribu buah dengan berbagai macam jenis anyaman.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.