Volume ekspor batu bara Kalimantan Selatan naik 53 persen dari 19,8 ribu ton periode Januari-Juli 2009 menjadi 25 ribu ton pada 2010 periode sama.
        
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Kalsel, Gusti Yasni Iqbal di Banjarmasin, Senin mengatakan, kenaikan volume ekspor tambang batu bara terjadi karena permintaan beberapa negara importir hingga triwulan kedua masih cukup tinggi.
        
Selain itu, kata dia, harga batu bara dunia juga cukup baik dan stabil sehingga mendorong beberapa eksportir tetap melakukan ekspor hasil tambang "emas hitam" tersebut.
        
Naiknya volume ekspor batu bara itu, menurut dia, juga membuat nilai ekspor tambang yang kini kegiatan eksploitasinya terus mendapatkan kecaman dari berbagai pihak tersebut juga naik tajam.
        
Pada 2009 periode Januari-Juli nilai ekspor batu bara asal Kalsel 2,2 miliar dolar AS dan pada 2010 periode sama menjadi 3,2 miliar dolar lebih atau naik sekitar 42,88 persen.
        
Nilai ekspor tambang batu bara tersebut, kata Iqbal mendominasi nilai ekspor Kalsel secara keseluruhan yang ditargetkan 5,5 miliar dolar AS atau naik dibanding 2009 sebesar 5 miliar dolar.
        
Secara keseluruhan, kata dia, nilai ekspor tambang Kalsel mulai dari batu bara, kliniker dan bijih besi pada 2009 sebesar 2,3 miliar dolar AS dan 2010 naik menjdi 3,297 miliar dolar AS.
        
"Dari jumlah tersebut nilai ekspor batu bara mencapai 3,247 miliar dolar artinya sebagian besar nilai ekspor Kalsel masih tergantung dengan 'emas hitam tersebut'," katanya.
        
Volume ekspor tersebut, kata dia, diprediksi akan terus naik pada tahun-tahun mendatang karena beberapa perusahaan besar seperti PT Adaro dan lainnya juga berencana menaikkan produksi.
        
Menurut Iqbal, sampai saat ini ekspor Kalsel masih mengandalkan ekspor tambang batu bara sedangkan sektor lain baik itu perkebunan maupun pertanian belum berhasil memberikan dampak peningkatan pendapatan nilai devisa bagi negara.
        
"Untuk sektor pertanian sudah lumayan bagus, namun angkanya masih jauh dibanding sektor pertambangan," katanya.
        
Sebelumnya perusahaan tambang terbesar di Kalsel berencana menaikkan kapasitas produksi dari 40 menjadi 80 juta ton lebih.
        
Rencana tersebut banyak mendapatkan kritikan dan penolakan berbagai pihak baik dari pemerintah daerah seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) maupun dari organisasi masyarakat pecinta lingkungan hidup karena khawatir eksploitasi tambang akan terus menyebabkan terjadinya kerusakan alam Kalsel.


: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026