Seperti dikatakan Hj Samratul, warga Gambut, hasil panen yang biasa (dalam keadaan normal/baik) mencapai 100 belik (kaleng/isi 20 liter) padi, kini cuma sekitar tujuh belik, demikian dilaporkan, Minggu.
Namun ada pula yang keadaannya sedikit, yaitu biasa hasil panen mencapai 200 belik, tahun ini sebanyak 80 belik, yang berarti pula masih jauh dari kebiasaan, tuturnya.
Ia mengatakan tidak tahu pasti penyebab menurunnya hasil panen tersebut, padahal semua tanaman padi di sawah menunjukan buah yang merata, tapi ketika dibersihkan banyak hampa.
"Mungkin penyebab menurunnya hasil panen padi sawah tahun ini, dikarenakan keadaan musim yang kelihatannya tidak menentu, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pertanaman," lanjutnya.
Hal senada juga dikatakan warga Gambut lainnya, bahwa meskipun hasil panennya jauh lebih baik dari keluarga Samratul, tetapi juga tetap hasilnya di bawah tahun lalu.
"Sebagai contoh, hasil penan tahun lalu mencapai 400 belik, tahun ini turun menjadi 300 belik," ungkap keluarga Yadi.
Wilayah Kecamatan Gambut dan sekitarnya yang menjadi salah satu lumbung padi Kalsel, kini sedang panen, walau belum merata serta hasil yang kurang menggembirakan.
Petani Gambut dan sekitarnya berharap saat mereka panen, cuaca dalam keadaan baik, yaitu panas, karena kalau sebentar turun hujan selain menggangu orang-orang yang sedang menuai, juga padi jadi basah.
Karena kalau keadaan padi, tanpa segera dikeringkan bisa menurunkan kualitas, seperti tumbuh kembali bila tertahan lama dan berasnya banyak patah-patah di tempat penggilingan.
Oleh sebab itu, untuk menjaga kualitas padi/beras, sehabis memanen langsung dijemur, seperti terlihat belakangan ini banyak warga Gambut yang menjemur padinya di hampir semua pinggir sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.