Sudah menjadi hal lazim dilakukan setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri Pemkab Kotabaru Kalimantan Selatan bersama instansi terkait merazia makanan kedaluwarsa dan mengandung zat berbahaya.
Razia dilakukan karena sering ditemukan peredaran makanan kedaluwarsa melalui paket parsel dan beredaranya makanan yang mengadung zat berbahaya atau zat pengawet beredar pada makanan dan kue untuk berbuka puasa.
"Wajar jika memasuki bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri pemerintah melakukan razia makanan dipusat-pusat perbelanjaan dan super market," kata Sekretaris Dinas Perdagangan Penanaman Modal dan Pengelolaan Pasar Kotabaru H. Abdul Karim MAP.
Agar razia bukan hanya menjadi kegiatan rutinitas dan tidak memberikan dampak maksimal serta sering kecolongan, Karim mengaku tim yang akan melakukan razia secara diam-diam melakukan koordinasi kapan razia sebaiknya dilakukan.
Waktu razia dilakukan tiba-tiba untuk mengetahui bahwa sejauh mana pedagang dan para pengusaha super market mentaati peraturan untuk tidak menjual barang-barang yang kedaluwarsa atau barang yang mengandung zat berbahaya.
Meski dillakukan secara tiba-tiba, petugas sering kecolongan dan menemukan pedagang yang masih suka main 'kucing-kucingan' dimana saat razia barang kedaluwarsa disimpan dan ketika petugas sudah meninggalkan toko atau super market barang-barang tersebut kembali dijual.
"Dalam razia kami juga meminta para pedagang untuk konsisten dan patuh terhadap aturan yang berlaku," tagasnya.
Apabila hal itu tidak diindahkan, tim gabungan bisa saja menyeret pedagang atau pengusaha yang terbukti sengaja menjual barang kedaluwarsa dan membahayakan kosumen itu keranah hukum.
Karim mengakui, memasuki hari ke-21 Ramadhan masyarakat yang berkunjung ke super market, pusat perbelanjaan dan pasar-pasar meningkat hingga 50 persen dibanding hari-hari biasa.
Dalam kondisi tersebut, bisanya digunakan oknum pedagang sebagai kesempatan untuk menjual barang-barang yang hampir bahkan sudah kedaluwarsa karena pengunjung pasar atau super market tidak memperhatikan masa beredarnya makanan yang dibeli.
Disisipkan
Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru drg Cipta Waspada, sebelumnya menyatakan, menjelang lebaran rawan beredarnya parsel yang diisi dengan bahan makanan yang hampir kedaluwarsa.
"Untuk bagian luarnya, parsel tersebut diisi dengan barang yang masih bagus, tetapi terkadang yang didalam diisi barang-barang yang sudah hampir kedaluwarsa," kata Cipta pada suatu kesempatan.
Mengisi barang yang hampir kedaluwarsa itu biasanya dilakukan oleh 'oknum' yang mendapatkan pemesanan parsel dengan jumlah banyak.
Karena dalam jumlah besar itu, perusahaan yang memesan tidak sempat memeriksa isi parsel satu-persatu.
Sehingga oknum tersebut dengan mudahnya 'menyisipkan' barang-barang yang hampir kedaluwarsa, bahkan mungkin ada yang sudah kedaluwarsa.
Jika hal itu tidak diantisipasi jauh hari sebelum lebaran, lanjut Cipta, dikhawatirkan ada jatuh korban keracunan akibat mengkonsumsi makanan kedaluwarsa.
Menurut dia, barang yang hampir kedaluwarsa tersebut biasanya muncul saat ada pemesanan parsel dalam skala besar.
"Mungkin pedagangnya mempunyai pertimbangan dari pada barang itu ditarik atau dimusnahkan, lebih baik dijual," selorohnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru menjelaskan, jika barang kedaluwarsa itu dikonsumsi, dapat membahayakan kesehatan yang mengkonsumsi, karena bahan makanan itu mengandung bahan kimia.
"Bisa berupa diare, keracunan bahkan juga dapat merangsang bibit kanker berkembang," imbuhnya.
Bukan hanya barang kedaluwarsa yang harus dihindari untuk tidak dikonsumsi, barang yang kemasannya rusak atau berubaah bentuk, warna juga harus ditarik dari edarnya.
"Karena hal itu juga dapat membahayakan yang mengkonsumsi," tandasnya.
Untuk mengantisipasi beredarnya barang kedaluwarsa tersebut, Cipta mengaku, telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan sidak sebelum Lebaran.
"Waktu sidaknya masih dirahasiakan," tegasnya.
Selain sidak menjelang Lebaran, dinas kesehatan bersama instansi "kepanjangan tangan" dari Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan melakukan rajia rutin ke supermarket dan pasar-pasar.
Barang kedaluarsa itu, kata Sekretaris Dinas Perdagangan Penanaman Modal dan Pengelolaan Pasar Kotabaru, sebagian jenis makanan siap saji dan jenis snak (makanan ringan).
"Biasanya produk-produk dari luar negeri," katanya.
Sudah menjadi tekad pemerintahan H Irhami Ridjani dan Rudy Suryana dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakatnya, menjelang lebaran Idhul Fitri 1432 Hijriah secara sitematis semua intansi diminta untuk mengambil peran dalam meningkatkan pengawasan terhadap peredaran makanan yang tidak layak dikonsumsi.
Dinas Peternakan Kotabaru misalnya, menjelang Idul Fitri 1432 H, meningkatkan pengawasan di sejumlah pasar untuk mengantisipasi peredaran daging sapi/kerbau dan daging ayam dari luar, khususnya yang tidak layak konsumsi.
"Karena secara berkala ternak sapi dan ayam di Kotabaru sudah diperiksa dan memenuhi kategori untuk layak dikonsumsi, sementara yang dari luar belum diketahui," kata Kepala Dinas Peternakan Kotabaru H Sabri Madani.
Untuk mengantisipasi peredaran daging sapi atau daging kerbau dan daging ayam yang tidak layak konsumsi tersebut, tim dari Dinas Peternakan Kotabaru meningkatkan pengawasannya di pasar-pasar harian di daerah itu.
Sampai hari ini, ujar Sabri, dalam pengawasannya Dinas Peternakan tidak menemukan adanya peredaran daging gelonggongan, atau ayam mati kemarin "tiren" atau daging ayam yang diformalin.
Selain melakukan pengawasan di pasar-pasar, tidak menutup kemungkinan Dinas Peternakan Kotabaru juga akan melakukan pengawasan sejak pintu masuknya ternak.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi masuknya ternak yang kurang sehat atau terjangkit penyakit yang membahayakan bagi yang mengkonsumsi.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perdagangan, Penanaman Modal, dan Pengelolaan Pasar Kotabaru, Abdul Karim, menjelaskan, petugas tidak menemukan peredaran daging gelonggongan dan ayam mati kemarin karena masyarakat masih dapat menjangkau untuk membeli daging dan ayam.
Daging gelonggongan dan ayam mati kemarin tidak akan ada jika kondisi daya beli masyarakat masih bagus, katanya.
Namun apabila daya beli dan kemampuan masyarakat menurun, maka akan ada kemungkinan mereka akan mencari alternatif lain dengan mencari barang yang lebih murah, meski barang tersebut kualitasnya kurang baik.
Daging gelonggongan adalah daging yang didapat dari hewan yang sebelum disembelih terlebih dahulu dicekoki air secara berlebihan.
Bahkan, hewan tersebut kurang sehat/pingsan karena kelebihan minum, baru dipotong.
Sedangkan ayam "tiren" adalah ayam yang telah menjadi bangkai, dipotong dan dijual, dan biasanya harganya lebih murah dari biasanya.
Di daerah lain, seperti yang diwartakan di stasiun televisi swasta daging gelonggongan dan ayam tiren biasanya dijual pada malam hari, karena ciri ayam tiren yang pucat itu akan terlihat dengan jelas./C
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.