Frankfurt, (Antaranews Kalsel/AFP) - Bank Sentral Eropa (ECB) siap untuk memainkan perannya dalam membantu pemulihan ekonomi, Ketua ECB Mario Draghi mengatakan Senin, namun memperingatkan risiko-risiko terhadap pertumbuhan.
"Prospek pertumbuhan secara perlahan membaik di negara-negara maju, tetapi prospek di negara-negara berkembang lebih lemah. Secara keseluruhan, pertumbuhan rendah berdasarkan standar-standar historis," Draghi mengatakan kepada anggota parlemen di Parlemen Eropa dalam sebuah debat yang disiarkan langsung secara daring.
"ECB bersedia untuk mengontribusikan perannya guna memastikan bahwa pemulihan tetap secara kuat di jalurnya," kata dia.
Tetapi ada risiko-risiko empat kali lipat yang dapat merusak ekonomi, Draghi memperingatkan.
Ini adalah lingkungan ekonomi global, situasi sistem keuangan, kebijakan ekonomi negara-negara anggota zona euro dan ketidakpastian politik seputar "proyek Eropa" -- mengacu pada referendum Inggris tentang apakah memilih tinggal di atau keluar dari Uni Eropa yang diperkirakan akan dilakukan pada Juni.
"Sebuah solusi yang akan menjangkar Kerajaan Inggris secara kuat di dalam Uni Eropa, sementara kemungkinan kawasan euro untuk berintegrasi lebih lanjut akan meningkatkan kepercayaan," katanya.
ECB telah meluncurkan berbagai langkah kebijakan yang berbeda untuk membantu mendapatkan ekonomi zona euro kembali pada pijakannya, terakhir program kontroversial pembelian obligasi yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif atau QE.
Draghi menegaskan kebijakan-kebijakannya sedang bekerja.
"Tanpa langkah-langkah ini, kawasan euro akan berada lama sekali dalam deflasi tahun lalu dan harga akan jatuh dengan kecepatan lebih cepat tahun ini. Pertumbuhan akan secara signifikan lebih rendah," katanya.
Namun, "sejak pertemuan kami di awal Desember, kondisi-kondisi akan lebih banyak berubah lagi," Draghi memperingatkan.
"Risiko-risiko penurunantelah meningkat lagi di tengah meningkatnya ketidakpastian tentangprospek pertumbuhan negara-negara berkembang, volatilitas di pasar keuangan dan komoditas, serta risiko geopolitik," katanya.
"Dinamika inflasi juga secara nyata lebih lemah dari yang kami harapkan pada Desember," dia melanjutkan.
"Oleh karena itu, pada pertemuan terakhir kami di Januari kami menilai bahwa kami akan menjadi perlu untuk meninjau dan mungkin mempertimbangkan kembali kebijakan moneter kami dalam pertemuan kebijakan moneter berikutnya pada awal Maret, ketika proyeksi makroekonomi staf baru menjadi tersedia."
Pada pertemuan Desember, ECB memangkas suku bunga utama "deposit" sebesar 0,10 persentase poin menjadi minus 0,30 persen dan memperpanjang program QE dengan enam bulan hingga Maret 2017.
Tetapi keputusan itu mengecewakan para pelaku pasar keuangan saat itu, karena mereka mengharapkan lebih banyak tindakan lebih tegas.
Jadi, pada pertemuan kebijakan pertama ECB tahun ini pada Januari, Draghi berusaha untuk meredakan kekecewaan dengan menjanjikan untuk meninjau kembali tingkat suku bunga kawasan euro
dan langkah-langkah stimulus lainnya pada Maret./f
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026