"Sejak 2010 penelitian pembuatan kokas yang rencananya memanfaatkan batubara kalori tinggi dihentikan karena tidak memberi nilai ekonomis baik dari segi pasar maupun perusahaan batubara," ujar Gubernur Kalsel Rudy Arifin di Tanjung, Selasa.
Akibatnya dihentikannya kegiatan penelitian yang merupakan kerjasama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan perusahaan Jepang, eks pabrik kokas jadi terlantar.
Gubernur pun menyampaikan hal tersebut ke Menteri ESDM, Darwin Z Saleh yang kebetulan hadir dalam peluncuran proyek biodiesel di areal tambang PT Adaro Indonesia di Tabalong.
"Kami menunggu arahan dari Pak Menteri terkait status eks pabrik penelitian kokas, dikembalikan ke Jepang atau dimanfaatkan untuk keperluan lain," tambah Gubernur.
Sebelumnya penelitian produksi kokas ini disponsori sejumlah perusahaan pertambangan besar seperti PT Arutmin, PT KPC dan PT Adaro Indonesia.
Pemerintah daerah sebelumnya berharap produksi kokas bisa dilanjutkan mengingat komoditi ini banyak dibutuhkan sejumlah industri seperti pengecoran logam.
"Kalau ternyata hasil riset komoditi kokas di Kalsel tidak menguntungkan terpaksa produksi tak bisa dilanjutkan meski komoditi ini banyak dipakai industri logam," ujar Gubernur lagi.
Sementara itu untuk ekspor Kalsel ke sejumlah negara seperti Jepang, Cina dan India, mengalami peningkatan sebesar 13,4 persen dengan total nilai ekspor mencapai 691 juta dolar AS.(mia/B)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.