Amuntai, Kalsel, (Antaranews Kalsel) - Sebanyak lima orang pasien penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, meninggal dunia.


Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Masbudianto, Selasa mengatakan, korban meninggal dunia akibat DBD terjadi sejak Desember 2014.

"Dua korban meninggal dunia pada Desember 2014, dan tiga orang lainnya meninggal pada Januari 2015," ujar Masbudianto, melalui siaran pers.

Oleh karenanya, lanjut dia, Hulu Sungai Utara ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus DBD pada akhir Desember 2014.

Sebenarnya, lanjut dia, kasus DBD sudah terjadi sejak Agustus 2014, namun baru dinyatakan sebagai KLB pada 12 Desember 2014, seiring jatuhnya korban jiwa akibat penularan penyakit ini.

Dikatakan, Desember 2014 menjadi puncak penularan DBD, hal itu ditandai jumlah pasien yang dirawat di Puskesmas, dan rumah sakit mencapai 57 orang.

Jumlah korban DBD Agustus-Desember 2014 sebanyak 127 orang, dua meninggal dunia. Januari 2015 mencapai 29 korban DBD, dan tiga di antaranya meninggal dunia.

Masbudianto menduga meninggalnya pasien DBD disebabkan keterlambatan membawa pasien berobat ke Puskesmas, atau karena faktor riwayat penyakit pasien yang memperparah penyakit DBD yang dideritanya.

"Apabila terjadi panas badan secara mendadak lebih dari 38 cc segera periksakan ke puskesmas dikhawatirkan tertular DBD," dia mengimbau.

Penularan penyakit DBD terjadi setiap tahun, akibat masyarakat kurang memperhatikan dan menjaga kebersihan lingkungan.

Jentik nyamuk Aedes Aegypti, kata dia, mampu bertahan hingga dua tahun di tempat-tempat penampungan air yang tidak dibuang, atau dibersihkan.

"Seandainya lingkungan bersih dari sampah-sampah yang berpotensi menjadi tempat genangan air tentu perkembangbiakkan jentik nyamuk malaria bisa berkurang," imbuhnya.

Ia meminta masyarakat terus melakukan kegiatan 3M plus, menguras, membersihkan dan menutup tempat penampungan air. Apabila air sukar di bersihkan agar menebarkan bubuk abate yang bisa diperoleh secara gratis di puskesmas.

Petugas Dinas Kesehatan Hulu Suyngai Utara, tidak henti-hentinya melakukan pengasapan (fogging) di kawasan yang dilaporkan terjadi penularan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

  Ia mengakui hingga Desember 2014, Dinkes Hulu Sungai Utara kesulitan melaksanakan foging akibat dana operasional untuk petugas telah habis, namun segera diatasi melalui penggunaan dana talangan.    

Pewarta: Imam Hanafi
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026