Ribuan induk ikan jenis nila yang dipelihara Kelompok Budi Daya Ikan Manuntung Desa Jingah Habang Ilir Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan, mati akibat pengeringan saluran irigasi yang sudah berlangsung sejak empat hari lalu.

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Manuntung, Dariani, dihubungi di Martapura, Minggu, mengatakan, kematian induk ikan nila itu berlangsung sejak Jum'at (23/7) atau dua hari setelah pengeringan irigasi yang dimulai pada Rabu (21/7).

"Jumlah induk ikan nila yang mati mencapai 75 persen dari total 30 ribu induk yang tersebar pada 500 kolam atau tambak yang dijadikan tempat perindukan untuk menghasilkan benih," ujarnya.

Induk ikan nilai yang mati merupakan induk jenis lokal yang hanya mampu bertahan satu hingga dua hari dalam kondisi kekurangan air, sedangkan induk jenis unggul sebanyak 2.000 ekor bantuan Balai Benih Ikan (BBI) Pemprov Kalsel sudah mati duluan akibat pengeringan irigasi tersebut.

"Induk jenis lokal masih mampu bertahan satu hingga dua hari dalam kondisi kekurangan air atau airnya tidak mengalir tetapi induk unggul tidak mampu bertahan sehingga mati sejak pengeringan irigasi hari pertama lalu," ungkapnya.

Dikatakan, kegiatan pengeringan irigasi dalam rangka pembersihan gulma itu berdampak besar terhadap kelangsungan hidup induk ikan di kolam perindukan karena air irigasi merupakan sumber utama untuk mengisi air di kolam-kolam ikan tersebut.

"Jika irigasi dikeringkan, otomatis tidak ada air yang dialirkan ke dalam kolam padahal air irigasi merupakan sumber utama untuk pengisian kolam. Akibat terhentinya aliran air sehingga induk ikan tidak bisa bernapas dan mati," ujarnya.

Mengenai kerugian yang dialami, ia mengatakan, jumlahnya ditaksir mencapai puluhan juta karena induk ikan yang mati harganya mencapai Rp20 ribu per kilogram dengan jumlah satu kilogram sebanyak empat hingga lima ekor.

Ditambahkan, selain mengakibatkan kerugian besar bagi anggota kelompok budi daya ikan, kematian puluhan ribu induk ikan nila itu juga berdampak besar terhadap pasokan benih kepada petambak ikan yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan.

"Kolam perindukan yang kami kelola menghasilkan benih yang di sebar ke seluruh wilayah Kalimantan, namun dengan adanya kematian massal induk ini dipastikan tiga hingga enam bulan ke depan, benih ikan tidak bisa dihasilkan," katanya.

Lebih lanjut, ia mengharapkan, ke depan dinas atau instansi terkait hendaknya berkoordinasi dengan cara menyampaikan pemberitahuan jika ada rencana pengeringan irigasi sehingga petani atau kelompok petambak bisa mengantisipasi sejak dini.

"Selama ini, setiap kali kegiatan pengeringan irigasi kami tidak pernah diberitahukan oleh dinas dan instansi terkait, malah kami pernah minta informasi kapan program pengeringan tetapi tidak ditanggapi," ujarnya menyesalkan

Pendamping teknis budidaya perikanan pada Kelompok Budi Daya Ikan Manuntung, Hamdani, mengatakan, dinas dan instansi terkait secepatnya merespon kondisi di lapangan sehingga petani petambak tidak mengalami kerugian dan pasokan benih kepada petambak tidak terganggu.

"Langkah bijak yang bisa diambil pihak terkait adalah secepatnya mengalirkan air ke dalam saluran irigasi sehingga air bisa digunakan mengisi kolam-kolam ikan maupun jala apung yang mengalami kekeringan," sarannya.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026