Menurut dia, harga jual ikan gurame di pasaran masih lebih mahal dibandingkan ikan lainnya yaitu berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram sehingga budi daya gurame sangat menguntungkan.
"Dari segi pembiayaan, pengembangan ikan gurame ini juga lebih menguntungkan karena pakan yang digunakan bisa dicampur dengan pakan non olahan," ujarnya di Rantau, ibu kota Tapin.
Tidak seperti ikan budi daya lain yang lebih banyak menggunakan pakan olahan untuk makan, pakan olahan untuk ikan gurame hanya 40 persen.
Sedang 60 persen pakan yang digunakan merupakan daun-daunan alami yang mudah didapat, seperti daun talas, daun pepaya dan daun singkong.
Ia mengatakan, Balai Benih Ikan Linuh sejak tahun 2009 lalu sudah mulai mengembangkan budi daya ikan gurame tersebut.
"Karena potensinya bagus dan murah, tahun 2010 ini kami lebih mengoptimalkan lagi upaya pengembangan ikan gurame," katanya.
Sejak disosialisasikan kepada masyarakat, budi daya ikan gurame ini mendapat sambutan yang bagus.
Kini mulai banyak masyarakat yang melakukan budi daya ikan gurame melalui keramba di Sungai Bungur, Kecamatan Bungur yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Rantau.
Ia menambahkan, upaya pengembangan budi daya ikan gurame saat ini terkendala tingkat reproduksi ikan itu yang terbatas.
"Gurame memiliki saluran reproduksi lebih kecil dibandingkan ikan lain, sehingga hanya mampu menghasilkan 5.000 telur," tambahnya.
Dari 5.000 telur yang dihasilkan seekor gurame, setelah dilepas ke dalam aquarium biasanya yang berhasil menjadi ikan hanya sebanyak 40 persen saja.
Hal tersebut mengakibatkan harga bibit ikan gurame menjadi mahal, yaitu berkisar antara Rp450 untuk ukuran 1 cm dan Rp750 untuk ukuran ikan sebesar ibu jari.
Karena itulah, kebanyakan warga yang membudidayakan ikan itu hanya mampu membeli bibit gurame antara 100 ekor hingga 500 ekor saja.
Balai Benih Ikan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat tengah mengembangkan probiotik yang mampu memacu daya reproduksi ikan gurame sehingga mempunyai jumlah telur yang lebih baik dan kemampuan hidup anak gurame lebih baik.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.