Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Mukhlis Gafuri mengizinkan gula rafinasi kembali beredar dipasaran.

Ditemui di ruang kerjanya di Banjarmasin, Selasa, Mukhlis mengatakan, terpaksa memberikan legalitas atau mengizinkan distributor dan pedagang kembali menjual gula rafinasi kepada masyarakat untuk mengatasi krisis gula yang terjadi beberapa bulan terakhir.

"Legalitas tersebut tidak bertentangan dengan peraturan pusat karena ketersediaan gula lokal di Kalsel menipis sehingga bisa mengganggu kebutuhan dan pasokan gula dimasyarakat," katanya.

Menurut dia, selama gula lokal sulit didapatkan dipasaran dan harganya tinggi maka pemerintah daerah memiliki kewenangan  mengeluarkan kebijakan sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing.

Seperti Provinsi Jawa Timur yang mengeluarkan kebijakan melarang gula petani keluar dari Jawa Timur maka Kalsel juga berhak mengeluarkan kebijakan mengizinkan gula rafinasi beredar dipasaran.

Namun demikian, kata dia, kalau memang gula petani atau lokal jumlahnya kembali melimpah dipasaran maka gula rafinasi tetap harus dibatasi peredarannya.

Pernyataan Sekda tersebut menanggapi tentang kelangkaan gula yang mengakibatkan harga dipasaran juga terus naik.

"Apalagi menjelang puasa dipastikan kebutuhan gula akan naik tajam karena kebiasaan warga Banjar pada puasa tidak lagi minum pakai gula tapi bisa diibaratkan makan gula," katanya.

Dengan demikian, kata dia, terpaksa Pemprov Kalsel mengeluarkan kebijakan kembali mengizinkan gula rafinasi beredar dipasaran.

"Kita tidak memiliki petani maupun penggilingan gula sehingga saat gula lokal langka terpaksa kita harus membeli rafinasi," katanya.

Ketua Asosiasi Gula Bersatu Aftahudin mengatakan, kebutuhan gula di Kalsel rata-rata sebanyak 9 ribu ton perbulan atau 140 ribu ton pertahun.

Sedangkan stok gula di Kalsel kini hanya sekitar 4.500 ton terdiri atas gula lokal 500 ton, rafinasi 3.000 ton dan impor seribu ton.

Jumlah tersebut, kata dia, hanya cukup untuk setengah bulan.

Berdasarkan surat persetujuan dari Sekda, kata Aftahudin, pihaknya telah melakukan order ke Sulawesi Selatan untuk mendapatkan tambahan pasokan gula rafinasi sebanyak 5.000 ton yang diperkirakan akan sampai di Kalsel dalam tiga hari ke depan.

Menurut Aftahudin, dibanding gula lokal harga gula rafinasi jauh lebih terjangkau yaitu hanya Rp9.100 perkilogram sudah harga di Banjarmasin.

Sedangkan gula lokal harga lelang sudah mencapai Rp9.100 sehingga harga hingga konsumen Banjarmasin bisa mencapai Rp9.600 perkilogram bahkan bisa lebih.

"Bagi kita memang lebih menguntungkan gula rafinasi selain harganya lebih murah karena jalur distribusi langsung kualitas juga jauh lebih bagus," katanya.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026