Mebagian masyarakat Kotabaru, Kalimantan Selatan, yang tinggal di daerah-daerah kecamatan menolak program konversi minyak tanah ke gas, mereka lebih tetap menggunakan minyak tanah atau kembali kembali menggunakan kayu bakar.

"Mungkin kami tidak akan menggunakan gas, karena berita televisi dan
koran bahwa stok gas di agen dan toko sering kosong, membuat harga
berubah-ubah," kata warga Kelumpang Selatan Nurul, Kamis.

Selain masalah ketersediaan, masalah harga juga menjadi pertimbangan sebagian masyarakat Kotabaru itu.

Menurut warga, harga minyak tanah yang hanya Rp3.500-Rp4.500 per liter
saja hampir tidak dapat terbeli, apalagi jika harga gas elpiji diatas
Rp30 ribu per tabung tiga kilogram.

Warga lebih mengutamakan membeli beras, sayur dan lauk-pauk untuk makan
sehari-hari daripada membeli minyak tanah atau gas elpiji.

"Bagi kami bahan bakar untuk memasak itu bisa saja menggunakan kayu
bakar jika tidak dapat membeli minyak tanah, yang penting ada beras dan sayuran yang dimasak," ujarnya.

Bahkan sebagian warga mengaku jika pemerintah tetap melakukan konversi,
mereka akan akan tetap mengambil jatah tabung dan kompor gas untuk
disimpan, dan mereka akan kembali menggunakan minyak tanah atau kayu
bakar.

Penolakan bukan hanya dari sebagian warga, tetapi juga dari sebagian
pedagang pengecer minyak tanah yang memakai gerobak dorong.

Sebelumnya, seorang pedagang eceran di Jalan Sisingamangaraja Kotabaru,
Fadli, mengatakan, sangat tidak setuju apabila konversi minyak tanah ke
gas itu diberlakukan di Kotabaru.

"Karena pendapatan kami otomatis hilang," katanya.

Keresahan atas diberlakukannya konversi minyak tanah ke gas juga
terlintas pada sikap Abah Rudi, seorang pedagang eceran yang memiliki
tiga langganan pada pangkalan minyak tanah.

"Saya tidak setuju di Kotabaru ada konversi minyak tanah," cetusnya.

Meski tidak diminta pendapat setuju atau tidak, sikap tidak setuju itu
bukan hanya dialami oleh kedua pedagang eceran, tetapi puluhan
teman-temannya yang sama satu profesi.

"Karena kami tidak memiliki ketrampilan lain selain berjualan minyak
tanah keliling dengan menggunakan gerobak," jelasnya.

Ia mengaku dalam satu pekan mendapatkan jatah minyak tanah dari pangkalan sebanyak dua drum.

"Jika kami memiliki langganan di tiga pangkalan, maka setiap bulan kami
mendapatkan jatah minyak tanah dari pangkalan tersebut delapan drum,"
ujarnya.

Dari hasil berjualan itu, Abag Rudi memperoleh penghasilan sekitar Rp2 juta lebih per bulan.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Depo Pertamina Kotabaru Imam Hardjito
menjelaskan, hingga kini di Kotabaru belum ada rencana konversi minyak
tanah ke gas.

"Sampai saat ini kami belum mengetahui kapan konversi minyak tanah di Kotabaru," terangnya.

Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas) Kotabaru,
H Amrah Muslimin, dalam suatu kesempatan menilai konversi itu terkesan
dipaksakan.

"Bagaimana tidak, sampai saat ini PT Pertamina belum melakukan
sosialisasi, namun program konversi minyak tanah ke gas tetap akan
dilaksanakan pada Mei mendatang," kata Amrah.

Ia mengungkapkan, selain belum ada sosialisasi, persiapan stasiun
pengisian gas elpiji (SPGE) dan pengadaan tabung gas juga belum
disiapkan.(C/B)




Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026