Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Ariffin mengungkapkan, jumlah penduduk miskin di provinsinya pada tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan 2012.
Ia mengungkapkan itu dengan mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, pada rapat paripurna DPRD provinsi setempat yang dipimpin ketuanya Kolonel Inf (Purn) Nasib Alamsyah, di Banjarmasin, Senin.
"Berdasarkan catatan BPS Kalsel hingga Maret 2013, penduduk miskin di daerah kita mengalami penurunan 7.475 orang atau setara dengan 3,95 persen, dari 189.214 orang atau 5,01 persen pada 2012, menjadi 4,77 persen atau 181.739 orang tahun 2013," ungkapnya.
Keberhasilan menurunkan jumlah penduduk miskin tersebut, menurut orang nomor satu di jajaran pemerintah provinsi (Pemprov) itu, tentunya menumbuhkan keyakinan untuk mencapai indikator kinerja makro kemiskinan sebesar 4,25 persen pada tahun 2015.
"Berkurangnya angka kemiskinan juga diikuti dengan menurunnya angka pengangguran," lanjutnya saat menyampaikan penjelasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Kepala Daerah Kalsel tahun anggaran 2013.
"Tingkat pengangguran terbuka di Kalsel mengalami penurunan yang cukup signifikan, dari 4,32 persen pada 2012 menjadi 3,91 persen pada tahun 2013," lanjutnya.
Dalam LKPj 2013, Gubernur Kalsel dua periode itu juga mengungukap pembangunan kesehatan di provinsi yang terdiri 13 kabupaten/kota dan kini berpenduduk sekitar 4,2 juta jiwa tersebut.
Menurut dia, pembangunan kesehatan di "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" Kalsel itu juga menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, terutama diukut dari delapan sasaran kinerja bidang kesehatan, yang meliputi meningkatnya pelaksanaan pemberdayaan dan promosi kesehatan.
Selain itu, meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat, meningkatnya upaya dan mutu pelayanan kesehatan, menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular, serta meningkatnya mutu lingkungan hidup yang lebih sehat.
Meningkatnya sediaan farmasi, alat kesehatan, obat dan makanan yang memenuhi stadar dan terjangkau oleh masyarakat, terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis.
Kemudian meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka mengurangi risiko fiansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama penduduk miskin.
Ia mengungkapkan, delapan sasaran kinerja kesehatan tersebut, untuk Kalsel rata-rata pencapaiannya lebih dari 96 persen.
"Atas keberhasilan delapan sasaran kinerja kesehatan tersebut, persentase desa siaga aktif meningkat, angka kematian ibu menurun dari target 91 kasus menjadi 90 kasus," ujarnya.
Selain itu, cakupan persalinan ditolong tenaga bidan bertambah banyak dari terget 88 persen, justru tercapai 90 persen," lanjut pendiri Akademi Keparawatan Martapura, Kabupaten Banjar Kalsel, yang kini berubah menjadi Akademi Kebidanan tersebut.
Begitu pula jumlah rumah sakit terakreditasi memperoleh pencaian yaang melebihi target, yaitu dari 70 persen terealisasi 73,3 persen, serta prevalensi penyakit menular turun dari 300 menjiad 210/100.000 penduduk.
Keadaan serupa angka kesehatan DBD (demam berdarah) turun dari 61,0 menjadi 33,8/100.000 penduduk, persentase desa yang miliki tenaga bidan sudah mencakup 90 persen, serta Puskesmas yang memiliki dokter juga meningkat dengan cakupan 90 persen, demikian Rudy Ariffin.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.