Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Wakil Ketua DPRD Kalimantan Selatan Muhammad Iqbal Yudiannoor berharap, kejadian kawasan PT Sebuku Iron Lateritic Ores (Silo), perusahaan pertambangan bijih besi di Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, jangan terulang.
"Kita berharap, tidak terulangnya bencana banjir sebagai dampak kegiatan penambangan, bukan cuma bagi perusahaan pertambangan bijih besi di Pulau Sebuku, tetapi juga terhadap kegiatan serupa dari perusahaan lain di tempat-tempat lainnya," ujar di Banjarmasin, Selasa.
"Perusahaan jangan lalai dalam melakukan usaha, terlebih usaha/kegiatan yang rawan dampak lingkungan atau bisa menimbulkan bencana jika terjadi kelalaian," lanjut mantan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Kalsel tersebut.
Karena, menurut politisi muda Partai Demokrat itu, di provinsinya yang terdiri 13 kabupaten/kota cukup banyak usaha/kegiatan yang tergolong rawan dampak lingkungan atau bencana.
"Di Kalsel banyak usaha/kegiatan, seperti bidang pertambangan, yang rawan dampak lingkungan atau bencana, bila pengelolaan lingkungannya tidak secara baik dan benar," lanjutnya.
Mengenai bencana banjir yang merupakan bagian dari dampak kegiatan penambangan bijih besi oleh PT Silo, menurut dia, peristiwa itu menjadi pembelajaran dan perusahaan tersebut tetap harus bertanggung jawab.
"Walaupun bencana banjir itu karena luapan air bekas tempat pencucian bijih besi yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun, perusahaan tersebut tetap harus bertanggung jawab," tandas putra H Sjachrani Mataya, mantan Bupati Kotabaru tersebut.
"Semua bakas galian ataupun kolam bekas pencucian hasil tambang, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tetapi harus ada antisipasi agar tidak menimbulkan bencana atau dampak lingkungan," ujar Iqbal.
Bencana banjir yang melanda Desa Sungai Bali, Kecamatan Pulau Sebuku pada 4 Februari lalu, berdasarkan keterangan dari manajemen PT Silo, karena luapan air bekas tempat pencucian bijih besi, yang disebabkan curah hujan tinggi.
Sebagai tanggap darurat, perusahaan pertambangan bijih besi tersebut membuka dapur umum di empat titik, guna meringankan beban warga masyarakat setempat, terutama bagi mereka yang terkena bencana banjir.
 Untuk klarifikasi atas kejadian itu, manajemen perusahaan tersebut mengundang sejumlah petinggi media massa di Banjarasin atau awak media di provinsi itu, 13 Februari 2014 untuk menjelaskan kronologisnya.  Â
: Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.