Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Pemprov Kalsel Mukhlis Gafuri di Banjarmasin, Selasa, usai pembukaan forum gabungan satuan kerja perangkat daerah di Bappeda Kalsel.
Menurut Sekda, dana cadangan tersebut salah satunya bertujuan untuk memberi perlindungan kepada petani dan nelayan dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Dia mengatakan, selama ini kenaikan harga beras premium yang cukup tinggi hanya dinikmati pedagang atau tengkulak sedangkan petani tidak mendapatkan insentif apa-apa.
Menghindari hal itu , kata dia, tidak menutup kemungkinan Pemprov Kalsel akan ikut membeli beras premium tersebut dengan harga yang layak langsung ke petani.
"Jadi keuntungan dengan membaiknya harga beras yang selama ini hanya bisa dinikmati tengkulak akan kita kembalikan ke petani," katanya.
Sebagaimana diketahui, selama 2010 harga beras premium atau lokal melonjak tajam dari sebelumnya Rp7.500 menjadi Rp12.000/kg.
Melonjaknya harga beras tersebut hanya bisa dinikmati tengkulak atau pedagang sedangkan petani tetap mendapatkan harga yang rendah.
Selain sektor pertanian, tambah Sekda, cadangan dana juga bisa dimanfaatkan oleh sektor kesehatan dan sektor lain yang memang memerlukan.
Misalnya saja rumah sakit mendesak harus membeli alat kesehatan namun dananya tidak ada maka rumah sakit tersebut bisa meminjam terlebih dana cadangan itu dan mengembalikan setelah dananya ada.
"Saya harap seluruh kabupaten dan kota juga melakukan hal yang sama sehingga program kerja provinsi dan kabupaten bisa saling menunjang dan bersinergi," katanya.
Menurut Mukhlis, pihaknya telah meminta kepada masing-masing dinas untuk segera merealisasikn seluruh program yang telah direncanakan untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada.
Misalnya tentang masih tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, dinas kesehatan harus segera menempatkan tenaga kesehatan baik itu bidan atau perawat di seluruh desa di Kalsel.
Bila seluruh desa sudah ada tenaga kesehatan atau bidan yang mampu memberikan pertolongan kepada ibu yang melahirkan maka angka kematian bayi dan ibu melahirkan diharapkan bisa ditekan.(B/A)
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.