Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) melalui program CSR Lingkungan yang diawali salah satunya dengan restorasi kawasan hutan mangrove di kawasan Cagar Alam Selat Sebuku (CASS) sampai tahun 2012 telah menanam sebanyak 187.500 bibit mangrove pada lahan seluas 75 hektare dengan jenis Rhizophora Mucronata dan Bruguiera Sexangula yang dilaksanakan oleh pihak ketiga dibawah koordinasi Dinas Kehutanan Kotabaru.
Direktur Operasi PT SILO, Henry Yulianto mengatakan, kegiatan tersebut tidak terlepas dari kepedulian perusahaan dibidang lingkungan yang dilandasi oleh visi perusahaan "menjadi pioneer dalam industri baja yang menggunakan bahan baku lokal (Biji besi laterit) dan produksi terkait didalamnya.
Selain itu ingin menjadi aset bangsa dan negara dengan berpedoman selalu berwawasan lingkungan dalam menjalankan aktifitas dan memenuhi "good mining practice" bagi perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan bijih besi yang beroperasi sejak tahun 2004 yang berlokasi di Kecamatan Pulau Sebuku.
guna menghadapi persoalan lingkungan terutama kerusakan kawasan hutan mangrove di CASS, PT SILO dengan pilihan strategis melalui program CSR lingkungan mendukung sebuah kerja sama dalam bentuk Kolaborasi Pengelolaan CASS dan Daerah Penyangga di Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.
Program tersebut dilaksanakan terutama dikaitkan dengan kerusakan lingkungan sebagai dampak dari pembangunan pertambakan liar, selain itu upaya untuk mengelola ketersediaan air serta mengurangi gangguan kawasan pesisir, katanya.
“Kami memulai dengan membangun pola kemitraan antar lembaga untuk mempercepat pemulihan kawasan itu bersama Balai Konservasi Sumberdaya Alam Kalimantan Selatan, Dinas Kehutanan Kabupaten Kotabaru yang tertuang dalam Nota Kesepakatan yang selanjutnya ditindak lanjuti dengan perjanjian kerja sama 20 Desember 2008 yang diketahui Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan. Kemitraan strategis itu adalah kerja sama mengoptimalkan Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Kalumpang, Cagar Alam Selat Laut dan Cagar Alam Selat Sebuku serta daerah penyangga di Kabupaten Kotabaru," katanya.
Salah satu bentuk program Kolaborasi adalah Pengelolaan CASS dan Daerah Penyangga di Kecamatan Pulau Sebuku dengan tujuan menjaga keutuhan kawasan konservasi CASS, mempertahankan fungsi kawasan cagar alam sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman hayati termasuk ekosistemnya serta meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan masyarakat.
Kelompok sasaran utama adalah masyarakat di Desa Sungai Bali, Desa Ujung, Desa Rampa dan Desa Sarakaman yang berbatasan langsung dengan Kawasan Cagar Alam dan secara umum masyarakat di Kabupaten Kotabaru dan sekitarnya.
Menuruti dia, pelaksanaan program diawali salah satunya dengan restorasi kawasan hutan mangrove di CASS sampai tahun 2012 telah dilakukan penanaman seluas 75 hekjtare dengan jumlah bibit sebanyak 187.500 bibit mangrove dengan jenis Rhizophora Mucronata dan Bruguiera Sexangula yang dilaksanakan oleh pihak ketiga dibawah koordinasi Dinas Kehutanan Kotabaru.
Prosentase keberhasilan tumbuh melebihi 70% yang selama satu tahun dilakukan perawatan dan tambal sulam tanaman. Kegiatan restorasi diiringi juga dengan kegiatan CSR bidang ekonomi dan pendidikan lingkungan hidup berupa pemberdayaan melalui pembentukan remaja kader konservasi yang berada dibawah unit CSR perusahaan yang dikenal dengan Komite CSR Lingkungan.
Kehidupan masyarakat nelayan saat ini belum banyak mengalami peningkatan karena dalam beraktivitas masih menggunakan sistem tradisional baik penangkapan ikan maupun pengelolaan hasil pascapenangkapan, perlu peningkatan keterampilan dan diversifikasi dalam budidaya maupun produk olahan sehingga tidak hanya mengandalkan musim tangkap ikan tetapi juga nilai hasil produk olahan dapat ditingkatkan.
"PT SILO menyadari pemberdayaan sangat penting bagi masyarakat yang tinggal disekitar kawasan hutan dan kawasan cagar alam, program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan tentunya bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat. antara lain melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan serta praktek dalam prioritas kegiatan yang memberikan dampak secara nyata dan signifikan dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat," katanya.
Dengan pemulihan kawasan dengan hutan mangrove, maka secara nyata tidak hanya menyumpbang pendidikan dan pengetahuan lingkungan bagi masyarakat tetapi juga berdampak ekonomi yang luas seperti peningkatan perikanan dan dalam aspek lingkungan menyumbang penurunan gas emisi yang telah menjadi komitmen internasional. (Aan Alfihadi setia budhi, site sebuku/A).
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.