Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalimantan Selatan Aftahuddin mengatakan Kebutuhan gula di provinsi ini anjlok dari sebelumnya 12 ribu ton per bulan menjadi hanya 6 ribu ton per bulan.

Menurut Aftahuddin di Banjarmasin Rabu, penurunan kebutuhan yang mencapai 50 persen tersebut disebabkan oleh banyak faktor, antara lain turunnya daya beli masyarakat juga perkembangan teknologi pertanian.

"Kalau dulu para petani mengelola sawahnya untuk tanam dengan mencangkul, sehingga memerlukan sumber daya manusia yang banyak, kini memakai traktor, sehingga cukup menggunakan tenaga satu dua orang sudah selesai," katanya.

Sehingga tambah dia, pemilik sawah yang sebelumnya harus menyiapkan minum teh atau kopi untuk banyak orang, kini dipangkas hanya untuk beberapa orang dengan waktu yang singkat.

Kebutuhan gula untuk pertanian tersebut, tambah Aftahuddin, menjadi salah satu kebutuhan dasar, karena gula berfungsi untuk menambah kekuatan petani.

"Biasanya petani kalau tidak minum yang ada manisnya, akan lemah, sehingga berat untuk mencangkul," katanya.

Selain itu, tambah dia, kebutuhan gula dari masyarakat sektor perkebunan seperti karet juga berkurang, karena harga karet turun, membuat minat masyarakat untuk ke kebun juga berkurang.

Berkurangnya aktivitas masyarakat untuk ke kebun, secara langsung juga mengurangi kebutuhan untuk minum manis.

Saat ini, tambah dia, stok gula didistributor tersisa 4 ribu ton, sehingga masih relatif cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, hingga dilaksanakannya program distribusi gula oleh Bulog.

Warga Kalsel dikenal sebagai masyarakat penyuka manis, sehingga sebagian besar makanan khas daerah ini tidak lepas dari campuran gula pasir.

Sebelumnya disampaikan, konsumsi rata-rata gula pasir secara nasional hanya 0,3 kilogram per orang per bulan, tetapi rata-rata konsumsi gula warga Kalsel mencapai 1,3 kilogram per orang per bulan.

Berdasarkan data riset kesehatan dasar, beberapa penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian di Kalsel yaitu, diabetes melitus 2 persen dari jumlah penduduk, kemudian hipertensi mencapai 30,8 persen, stroke 9,2 persen, kanker 1,6 persen, dan jantung koroner 0,5 persen.

Pewarta: Ulul Maskuriah

Editor : Hasan Zainuddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2017