Barabai, (Antaranews Kalsel) - Warga Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, kesulitan membuka lahan pertanian khususnya daerah rawa yang tersebar di Desa Sungai Buluh, Desa Mantaas, dan Desa Rantau Bujur.


Kepala Desa Mantaas Mahyuni di Barabai, Minggu, mengatakan bahwa warga setempat meminta perhatian pemerintah daerah agar bisa mengelola lahan pertanian sehingga pendapatan masyarakat bisa bertambah.

"Karena kesulitan membuka lahan pertanian, akhirnya warga memilih mencari ikan dengan cara setrum untuk menghidupi keluarganya," kata Mahyuni.

Menurut Camat Labuan Amas Utara Anhar, lahan pertanian di wilayah tersebut banyak ditumbuhi jenis tanaman merambat, seperti susupan laki (mirip tanaman putri malu) sehingga warga pun kesulitan membuka lahan untuk bisa memanfaatkannya.

"Perekonomian warga pun menurun karena lahan pertaniannya tidak bisa dimanfaatkan karena itu banyak yang menjadi penyetrum ikan," kata Anhar.

Padahal, lanjut dia, penyetruman ikan merupakan tindak kejahatan karena dilarang oleh Pemerintah.

Ia meminta masyarakat untuk mencari ikan dengan menggunakan cara legal.

Dampak dari maraknya para penyetrum ikan pun sempat menimbulkan bentrokan antarnelayan di Danau Bangkau, perbatasan antara HST dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), yang dipicu perebutan lokasi mencari ikan.

Persoalan itu pun menjadi perhatian Bupati HST H. Abdul Latif, lantas dia berjanji akan menyelesaikan masalah-masalah tersebut mengingat Danau Bangkau merupakan milik bersama warga HST maupun HSS yang tinggal berdampingan.

"Lahan pertanian yang ditumbuhi susupan laki perlu segera kami tangani agar warga bisa memanfaatkannya sehingga kegiatan penyetruman ikan juga berkurang," kata Latif.

Menyusul adanya perintah Kapolda Kalsel untuk segera menyelesaikan masalah penangkapan ikan secara ilegal di wilayah ini dan masyarakat yang memiliki alat setrum ikan segera menyerahkan kepada aparat kepolisian serta tidak lagi melakukan pelanggaran hukum.

Pewarta: Herlina Lasmianti

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2017