Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar di bidang pertanian. 

Banyak terdapat lahan subur untuk pertanian yang memiliki ketersediaan nutrisi, air, dan kondisi lingkungan yang baik.

Namun tak sedikit pula lahan yang bisa dikatakan tidak subur alias kurang produktif untuk pertanian, seperti lahan rawa, lahan basah yang jenuh air dikategorikan sub optimal bagi pertanian.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam ataupun berpasrah diri terhadap keberadaan lahan rawa.

Lahan ini justru menjadi tantangan untuk bisa dioptimalkan pemanfaatannya bagi sektor pertanian nasional.

Para peneliti di bidang pertanian dikerahkan bagaimana mengidentifikasi lahan rawa agar bisa dibudidayakan.

Seperti sudah puluhan tahun dilakukan Dr Wahida Annisa Yusuf yang mengabdi di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Balittra sendiri sekarang bertransformasi menjadi Balai Perakitan dan Pengujian Pertanian Lahan Rawa (BRMP Rawa) pada Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Wahida mengakui kendala utama lahan rawa yakni air sulit dikendalikan serta kemasaman tanah yang tinggi.

Jika lahan yang mengandung senyawa besi sulfida (pirit) maka berpotensi menghasilkan asam sulfat ketika terpapar oksigen sehingga menyebabkan tanah menjadi sangat asam dan merusak lingkungan serta tanaman.

Oleh karenanya, pertanian untuk lahan rawa harus mengintegrasikan berbagai teknologi untuk meningkatkan produktivitas. 

Di sinilah peran BRMP Rawa yang ditugaskan pemerintah merakit teknologi pertanian lahan rawa dan melakukan pengujian terkait analisa tanah dan air di lahan rawa.

BRMP Rawa menghasilkan rakitan teknologi pertanian seperti teknologi pengolahan air, pemupukan dan ameliorasi, penyiapan lahan dan pengendalian hama penyakit serta penggunaan varietas unggul.

Semua teknologi tersebut bertujuan agar pertanian di lahan rawa bisa optimal baik dari segi produktivitas maupun Indeks Pertanaman (IP).

Saat ini Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencanangkan agar Indonesia bisa mencapai swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Caranya melalui intensifikasi yakni meningkatkan produksi pertanian dengan mengoptimalkan lahan yang sudah ada.

Kemudian ekstensifikasi, yaitu upaya meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian, seperti membuka lahan baru atau lahan tidur. 

Contoh ekstensifikasi adalah dengan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Desa Ujung, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Program ini melibatkan pembukaan 4.000 hektare lahan baru ditanami padi menggunakan drone, memperkenalkan efisiensi dalam proses tanam bagi petani setempat.

Target jangka panjangnya, Tanah Laut menjadi salah satu penopang utama pasokan beras nasional lewat produktivitas panen tiga kali setahun.

Menurut Wahida, berbagai rakitan teknologi pertanian lahan rawa ini perlu terus disebarkan dan disosialisasikan ke petani agar secara terpadu bisa membantu meningkatkan produktivitas pertanian.

Luasan lahan rawa di Indonesia mencapai 33 juta hektare dan yang belum dimanfaatkan untuk pertanian masih cukup banyak.

Melihat kondisi ini, Kementerian Pertanian punya program strategis yakni cetak sawah dan optimasi lahan rawa yang tersebar di Papua, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.

Wahida menyebut program cetak sawah ini harus diikuti dengan implementasi penerapan teknologi lahan rawa agar lahan yang sudah dibuka bisa dibudidayakan maksimal dan hasilnya optimal.

Karena ketika keliru melakukan pengelolaannya maka berdampak tereksposnya unsur meracun yang mengakibatkan tanaman mati dan tidak optimal.

Seperti di Kalimantan Selatan, kondisi lahan sebagian besar rawa lebak dan pasang surut.

Untuk rawa lebak yang terdapat di wilayah utara Kalsel, yakni kawasan hulu sungai, petani harus bisa mengendalikan air melalui pembangunan tanggul.

Sedangkan lahan pasang surut, yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala, perlu diperhatikan pirit bersifat toksik seperti diibaratkan macan tidur yang jika terekspos maka lahan tidak subur dan akhirnya tanaman bisa mati.

Dipercaya memimpin BRMP Rawa sejak Mei 2025, Wahida membuka diri bagi masyarakat umum, kelompok tani dan siapa pun yang berkepentingan di sektor pertanian untuk sama-sama memajukan pertanian, khususnya lahan rawa.

Masyarakat bisa mendatangi BRMP Rawa yang berkantor sekaligus memiliki kebun percontohan berbagai tanaman lahan rawa yang luas di Jalan Kebun Karet, Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sebagai putri daerah kelahiran Banjarmasin 7 Januari 1977, Wahida berkomitmen penuh terhadap kemajuan sektor pertanian di lahan rawa.

Pendidikannya tidak kaleng-kaleng. Selepas lulus SMAN 7 Banjarmasin, dia menempuh S1 Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 Ilmu Tanah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kini fokusnya hanya satu yakni berkontribusi mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa lewat ketahanan dan swasembada pangan sebagai implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

 

 

Pewarta: Firman

Editor : Mahdani


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025