Abdullah Sihamkari yang merupakan pencipta Badge Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Selatan tutup usia sekitar pukul 03.15 wita saat dirawat di Rumah Sakit H Dhamanhuri Barabai, Rabu (18/3).

"Pada hari Jumat (15/3) malam, beliau dibawa ke RS dan meninggal subuh tadi," kata menantu Abdullah Sihamkari yang merupakan pengurus Baznas HST, muhammad Gazali.

Penyebab kematian menurutnya dari keterangan dokter, disamping karena faktor usia yang sudah mencapai 81 Tahun, juga diakibatkan infeksi paru-paru.

"Rencananya, beliau akan dishalatkan pada hari ini sekitar pukul 14.30 wita," katanya.

Berikut prestasi dan perjalanan hidup Abdullah Sihamkari yang pernah diwawancarai kontribotur berita ANTARA di Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada 16 Agustus 2017 yang lalu.

Drs H Abdullah Sihamkari merupakan tokoh yang sangat penting dalam perkembangan Pramuka Khususnya Kalimantan Selatan (Kalsel) karena beliaulah yang menciptakan badge Kwartir Daerah Kalsel yang sekarang di pakai oleh seluruh anak-anak pramuka di bagian lengan baju sebelah kanan sebagai identitas asal gugus depan daerah.

Beliau tinggal di Kampung Melayu Kelurahan Barabai Timur Nomor 26, RT 04, RW 02 Kecamatan Barabai.

Saat didatangi dulu, kondisi beliau menggunakan kursi roda karena lumpuh sejak tiga tahun yang lalu namun masih bugar dan dengan semangat bercerita kiprah Kepramukaan yang Dia perjuangkan di Kalsel.

Sesuai dengan Surat Keputusan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Kalsel No.KEP.-04/DXIII/8/67 yang ditanda tangani Mastur Anang tertanggal 15 Agustus 1967 karyanya melukis lambang lencana Daerah Gerakan Pramuka Kalsel menjadi juara pertama.

karya tersebut, diceritakannya mengalahkan 66 peserta dari berbagai Kabupaten yang juga mengikuti sayembara yang dilaksanakan kala itu.

Dengan tangan sedikit gemetar, Ia mengisahkan, bahwa dalam sayembara itu dia mewakili Kwartir Cabang Pramuka HST yang membawa tiga buah lukisan yang bermotif Gasing, angka delapan dan bentuk perisai. Akhirnya bentuk perisai yang terpilih menjadi terbaik serta dipakai hingga sekarang.

Setiap goresan dan warna pada lambang lencana Kalsel Pramuka itu mempunyai filosofi dan makna sangat mendalam yang kesimpulannya adalah pendidikan dan latihan kepramukaan Kalsel.

Lambang tersebut, juga bermakna memupuk semangat waja sampai kaputing mengabdi kepada negara, berketerampilan dan bersahaja serta berbahagia bagi orang lain atau masyarakat yang juga bagi dirinya sendiri serta siap memegang tongkat estafet dari orang tua.

Pensiunan Kepala Sekolah di MTsN Batu Benawa tahun 1999 itu juga menjelaskan, bahwa Dia menciptakan lencana itu sewaktu masih menjabat sebagai Kepala Sekolah di MTs Negeri Barabai tahun 1967 yang kebetulan juga sebagai Pengurus Kwarcab Pramuka HST Andalan Urusan Seni dan Budaya.

Dia sempat memyampaikan, sampai saat ini tidak pernah ada sedikitpun pemerintah daerah maupun Provinsi Kalsel memberikan penghargaan namun justru pernah ada pemberian The Achievment Award dari Kwarcab Pramuka HSU tahun 2013 yang lalu. Namun dia tidak pernah berharap itu yang penting menurutnya bisa terus berkarya untuk Banua dan memberikan yang terbaik.

Mantan Aktivis HMI dan Ketua Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada) Kalsel tahun 80 an ini juga sudah ditinggalkan oleh istrinya Galuh Halimah sejak 11 tahun yang lalu yang sekarang mempunyai dua orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Semuanya sudah berkeluarga dan mempunyai 11 cucu.

"Walaupun kondisi saya sudah seperti ini namun saya tetap menyimak perkembangan Pramuka sekarang yang semangatnya sudah berkurang terlebih pada kepengurusan Pramuka yang sudah dilibatkan ke arah kepentingan politik. Sangat berbeda saat kita berjuang bagaimana mengembangkan pramuka ini benar-benar untuk melatih kecakapan diri, pendidikan dan keterampilan," kata sosok tua kelahiran 15 Agustus 1939 itu.

Salah satu anak beliau, Fitrahil Wati Lanupisa juga sempat menyampaikan bahwa berbagai perawatan dari Dokter hingga di urut sudah dilakukan untuk mengobati kelumpuhan beliau. Namun belum bisa sembuh yang kemungkinan juga penyakit yang memang umur sudah tua namun secara fisik tubuh beliau tidak punya penyakit apa-apa masih sehat dan semangat hidup yang luar biasa.

"Penyebabnya karena waktu beliau masih aktif ngajar dulu pernah ditabrak mobil hingga kaki beliau cidera namun hanya dilakukan dengan pengobatan biasa secara tradisonal tidak di bawa ke dokter walaupun waktu itu sembuh namun ternyata di usia tua dampak cidera itu kembali menyerang beliau hingga menyebabkan tidak bisa lagi berjalan dan hanya bisa menggunakan kursi roda," katanya.

Pewarta: M. Taupik Rahman

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2020