Calon gubernur Kalimantan Selatan dengan nomor urut 2, H. Sjacrani Mataja yang berpasangan dengan Gutis Farid Hasan Aman atau "Safa" menyatakan, cukup puas telah menjadi pelaku sejarah bukan hanya sebagai penonton sejarah.

"Saya cukup puas telah menjadi pelaku sejarah bukan penonton sejarah," katanya di Kotabaru, Kamis menyikapi rendahnya perolehan suara "Safa" dari sementara atau hitung cepat.

Sjachrani yang kini masih menjabat Bupati Kotabaru menyadari bahwa dirinya kalah dalam pencalonan gubernur Kalsel bahkan dia juga mengakui kalah didaerahnya sendiri.

"Mungkin ini sudah kehendak Allah dan saya ikhlas menerima kekalahan ini," ucap bupati Kotabaru dua periode.

Ia menduga masyarakat Kotabaru masih terlena dengan hal-hal yang kecil dan sepele seperti pemberian sembako dan lain-lain.

Program sekolah gratis, KTP gratis, akte kelahiran gratis dan berobat di Puskesmas dan rumah sakit gratis untuk kelas III yang ditawarkan "Safa" semuanya kalah dengan pemberian sembako dan barang yang kecil, ujar Sjachrani.

Meski hasil penghitungan suara masih belum final, Sjachrani merasa bahwa perolehan suara pasangannya rendah dibanding calon gubernur incumbent Rudy Arifin.

Ia menepis anggapan rendahnya perolehan suara di Kotabaru karena imbas dari keinginan pemerintah daerah membuka pertambangan di Pulau Laut.

"Itu sama sekali tidak mempengaruhi karena tidak banyak masyarakat yang mau tahu tentang pembukaan tambang," tandasnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil penghitungan suara sementara yang diterima KPU Kotabaru Rabu (2/6) sekitar pukul 19.05 Wita pasangan Safa memperoleh 6.997 suara atau sekitar 21 persen dari 30.065 suara yang masuk.

Perolehan tertinggi untuk pasangan Zairullah Azhar-Habib Aboe Bakar Al-Habsyie sebanyak 11.171 suara atau sekitar 34 persen.

Disusul pasangan Rudy Arifin-Rudy Resnawan dengan perolehan 10.160 suara atau sekitar 31 persen.

Pasangan Rosehan NB-Saiful Rasyid memperoleh 3.209 suara atau sekitar 10 persen dan pasangan Khairil Wahyuni-Alwi Sahlan memperoleh 1.737 suara atau sekitar lima persen.


: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026