Tugas negara memberi harapan, memberi rasa dan memberi optimisme bahwa kita semua punya masa depan. Melihat masa depan dengan kepala tegak
Banjarmasin (ANTARA) - Paramater perekonomian dan hasil-hasil pembangunan yang dicapai secara positif dalam empat tahun pemerintahan Jokowi-JK layak membuat anak muda Indonesia optimistis. 

Pernyatan itu ditegaskan Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho saat tampil sebagai pembicara dalam Diskusi Publik ‘Pembangunan, Inovasi dan Sumber Daya Lokal’ di Lecture Theater Building Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Selasa (5/3).

“Tugas negara memberi harapan, memberi rasa dan memberi optimisme bahwa kita semua punya masa depan. Melihat masa depan dengan kepala tegak,” kata Yanuar. 

Di depan ratusan mahasiswa ULM, Deputi KSP yang membidangi kajian dan pengelolaan isu-isu sosial, ekologi dan budaya strategis itu menekankan saat ini dunia sedang berubah.

"Ayo, mulai pikirkan. Apa yang Anda sasar? Setelah lulus ngapain? Mau kerja? Jadi wirausahawan? Semua terbuka lebar,” katanya.
Doktor inovasi teknologi dan perubahan sosial Manchester Business School ini memberi alasan mengapa masa depan Indonesia amat cerah. Lima parameter raport yang menjadi tolak ukur sebagai negara semuanya baik: pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, kesenjangan, inflasi dan tingkat pengangguran. 

“Angka pengangguran kita saat ini terendah selama 20 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi kita stabil, inflasi terjaga rendah dan tingkat kemiskinan turun menjadi 1 digit, 9,66%, terendah sepanjang sejarah republik ini,” paparnya.

Yanuar menggarisbawahi, lima paramater ekonomi itu jadi modal terkuat Indonesia untuk maju. “Sebagai mahasiswa dari salah satu kampus terbaik di Kalimantan, pikiran Anda harus yakin bahwa masa depan terbuka lebar dan cerah,” tegasnya.

Yanuar juga menjawab pertanyaan Rahmatullah, mahasiswa Fakultas Ekonomi ULM tentang pengembangan produk unggulan lokal, dalam hal ini Itik Alabio, salah satu rumpun itik khas yang sebaran asli geografisnya ada di Kalimantan Selatan.

Ia menekankan seharusnya potensi Itik Alabio bisa dioptimalkan sebagai komoditas andalan Kalsel sehingga produknya berkembang pesat seperti empek-empek Palembang, rendang Padang, atau gudeg Jogja.

“Kalau dikembangkan citarasanya dan dikemas dengan baik, bukan tak mungkin Itik Alabio go internasional. Seperti rendang yang kini dikemas dalam kaleng dan jadi produk ekspor andalan,” jelasnya.
Dalam forum diskusi yang sama, Menteri Kemristekdikti Mohamad Nasir menekankan, nilai daya saing Indonesia selalu naik dalam Global Competitiveness Index. 

Menurut Nasir, negara membuka kesempatan luas bagi anak muda untuk maju. Salah satunya dengan pemberian Beasiswa ‘Bidikmisi’ sebagai bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa tidak mampu .

“Dengan Beasiswa Bidikmisi seperti ini, semua orang bisa mendapat kesempatan luas untuk maju. Anda anak petani bisa jadi pemimpin. Saya pun anak petani, bisa jadi Menristekdikti,” kata pria asal Ngawi, Jawa Timur itu.

Menteri Nasir menyatakan, ada 5.039 anak penerima Beasiswa ‘Bidikmisi’ termasuk dari kawasan tertinggal, terdepan dan terluar. “Di Kalimantan Selatan ada 109 mahasiswa penerima Beasiswa ‘Bidikmisi’,” jelasnya.
Pembicara lain dalam diskusi ini yakni Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kementerian Komunikasi dan Informatika Septriana Tangkary, Kepala Balitbangda Pemprov Kalimantan Selatan HM Amin dan Wakil Rektor I Bidang Akademik ULM Dr Aminuddin Prahatama Putra.

Septriana menyatakan, bukan mimpi Indonesia akan jadi bangsa besar. Di tengah derasnya perkembangan ‘internet of things’, ia mengajak anak muda menggunakan medsos dengan bijak. 

“Gunakan gawai yang kita miliki untuk menghasilkan konten-konten positif dan mencerahkan,” pesannya.
Rektor ULM Prof Dr H Sutarto Hadi sangat mengapresiasi digelarnya diskusi publik itu. Dia yakin mahasiswa bisa mereguk ilmu dari para pembicara hebat, dan melangkah menuju masa depan dengan penuh optimisme.

Pewarta: Firman
Editor : Gunawan Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2026