Seluas 160 hektare lahan pertanian di Kalimantan Selatan mengalami gagal panen akibat kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Selatan Aus Alkausar di Banjarmasin, Kamis mengatakan, tanaman padi yang mengalami gagal panen tersebut tersebar hampir di seluruh daerah antar lain di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut.

"Kemarau saat ini cukup panjang, sehingga banyak lahan terutama di lahan dataran tinggi yang kekeringan sehingga petani tidak bisa panen," katanya.

Meringankan beban petani, kata dia, pihaknya telah mengusulkan ke pemerintah pusat agar para petani tersebut mendapatkan bantuan sebesar Rp5 juta per hektare, dan diharapkan upaya tersebut bisa berhasil.

Menurut Aus, untuk bisa mengakses bantuan tersebut, pemerintah pusat cukup selektif dan ketat, apalagi banyak petani di daerah lain juga mengalami hal yang sama, sehingga banyak syarat yang harus dipenuhi.

Bila bantuan tersebut bisa dipenuhi, tambah dia, akan menjadi modal petani untuk melakukan tanam padi pada musim tanam berikutnya.

"Pada dasarnya gagal panen tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap target produksi padi Kalsel yang telah ditetapkan pemerintah pusat, namun tetap berdampak besar bagi petani," katanya.

Awalnya, Kalsel mendapatkan target produksi padi sebesar 2,2 juta ton per tahun namun kini diturunkan menjadi 1,9 juta ton dan diperkirakan jumlah tersebut telah memenuhi.

Penurunan target produksi padi tersebut terjadi, karena pemerintah pusat berasumsi bahwa tingkat konsumsi beras 2012 ini turun dibanding perkiraan sebelumnya.

Kemarau panjang yang melanda Kalsel saat ini, menyebabkan sebagian besar sungai dan sawah pertanian mengalami kekeringan.

Bahkan sebagian besar sawah yang ada di Kabupaten Banjar dan sekitarnya berubah menjadi lapangan sepak bola, atau tempat bermain layang-layang bagi anak-anak.

Kekeringan juga menyebabkan meningkatnya kebakaran lahan dan kawasan hutan, sehingga menyebabkan terjadinya kabut asap yang cukup tebal hampir di seluruh wilayah Kalsel.

Kondisi tersebut telah menyebabkan terjadinya gangguan arus lalu lintas, baik darat, laut maupun udara, juga mengganggu proses belajar mengajar siswa.


Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026