Anggota Komisi IV DPR-RI Habib Nabiel Fuad Al Musawa meminta pemerintah agar menindak spekulan yang mengambil keuntungan dibalik kenaikan harga kedelai.

Permintaan wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalimantan Selatan itu, melalui pers rilisnya, Kamis, berkaitan dengan masalah kenaikan harga kedelai belakangan dan membuat resah pembuat tahu di Indonesia.

Selain itu, menurut anggota Komisi IV DPR-RI yang juga membidangi pertanian tersebut, pemerintah harus melakukan intervensi atau operasi pasar kedelai, guna mengatasi masalah kenaikan harga barang dagangan itu.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga mendukung kebijakan pemerintah melakukan pemotongan bea masuk impor kedelai yang sifatnya sementara, dari yang selama ini sebesar 5 persen menjadi nol persen.

"Pemotongan bea masuk impor tersebut sudah barang tentu untuk meredam gejolak melabungnya harga kedelai seperti terjadi belakangan ini," lanjut almunus Institut Partanian Bogor (IPB) Jawa Barat (Jabar) itu.

Kemudian sebagai solusi jangka panjang, penyandang gelar S1 dan S2 IPB tersebut menyarankan, swasembada kedelai melalui penyediaan lahan atau berupa ekstensifikasi harus terus diupayakan.

"Karena permasalahan kita untuk bisa swasembada kedelai membutuhkan lahan yang cukup luas atau melakukan tambahan minimal 500.000 hektare (ha)," tandasnya.

Ia juga menyarankan, para petani lokal harus mengembangan kedelai lokal dengan mengadopsi teknologi transgenik "Genetically Modified Organism" (GMO) dalam pengembangan benih.

"Dengan mengadopsi teknologi transgenik GMO, diharapkan kualitas kedelai lokal mampu menyamai kualitas kedelai impor," tandasnya.

Sebab, lanjutnya, tanpa mengadopsi teknologi transgenik GMO, pengembangan kedelai lokal tidak akan mampu membantu perajin tahu tempe memecahkan permasalahan kenaikan harga yang terus terjadi selama ini dari Rp5.500/Kg menjadi Rp8.100/Kg.

Ia berharap, pemerintah agar sesegera mungkin mengambil langkah-langkah strategis supaya harga kedelai dapat segera turun dan normal kembali, sehingga dapat menyelamatkan ribuan pengrajin tahu tempe yang terancam gulung tikar.

Begitu pula para spekulan untuk tidak memanfaatkan bulan Ramadhan dan Lebaran buat mengambil keuntungan yang tinggi dan melakukan penimbunan, demikian Nabiel. 


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026