Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Kalimantan Selatan melakukan sosialisi untuk meningkatkan pengguna vasektomi atau penggunaan alat kontrasepsi pria yang jumlahnya masih cukup rendah di daerah ini.

Kepala BKKBN Kalsel Chamsyah Wahyuni di Banjarmasin, Senin mengatakan, penerapan program vasektomi di Kalimantan Selatan saat ini masih cukup rendah, karena banyak pria beranggapan bahwa masalah KB dan alat kontrasepsi adalah urusan wanita.

Selain itu, kata dia, penyebarluasan informasi tentang alat KB pria ini masih belum maksimal, kendati BKKBN telah melakukan kerjasama dengan para ulama agar membantu dalam kampanye penggunaan KB vasektomi.

Bahkan, kata dia, pihaknya juga telah mengajak para ulama tersebut untuk melakukan kunjungan ke Situbondo Jawa Timur, daerah yang cukup berhasil dalam menjalankan program pengendalian penduduk melalui program tersebut.

"Situbondo merupakan salah satu daerah rujukan untuk pelaksanaan program vasektomi, sehingga para ulama kita ajak untuk menambah wawasan ke daerah tersebut," katanya.

Diharapkan, dengan bantuan para ulama yang mengatakan, bahwa vasektomi tersebut halal dan aman, kesadaran warga Kalsel untuk memanfaatkan kontrasepsi vasektomi bisa meninngkat.

Mengkampanyekan vasektomi tersebut, BKKBN Kalsel juga memecahkan rekor MURI dengan peserta 874 orang mengalahkan peserta vasektomi dari Situbondo.

"Pencapaian ini merupakan awal yang baik karena, metode operasi pria (MOP) sangat sulit digerakkan di Kalsel," katanya.

Ternyata, pada saat pelaksaan rekor Muri, targetnya bisa tercapai, hal tersebut sangat mengharukan dan patut untuk dicontoh, terutama kepedulian dari anggota TNI-AD yang telah mengerahkan sebagian anggotanya.

"Yang paling mengharukan, pada saat saya wawancara dengan Danramel, kenapa bersedia ikut MOP dijawab, `Ya bu saya ingin menjadi contoh bagi anggota saya.` Ini merupakan kejutan bagi saya," katanya.

Sementara itu, Syahmadi, peserta Vasektomi mengatakan, bersedia ikut MOP karena ingin sehat dan bisa mengatur kelahiran, sehingga anak-anaknya bisa mendapatkan jaminan hidup lebih layak.

"Awalnya saya hanya ikut-ikutan melaksanakan program ini, ternyata cukup bagus dan saya sangat bersyukur," katanya.

Saat ini laju pertumbuhan penduduk Kalsel tercatat saratus ribu orang lebih per tahun, dengan demikian bila tidak dikendalikan mulai saat ini, akan terjadi ledakan penduduk di masa depan.

Hal tersebut, akan menjadi problem serius bagi pemerintah terkait penyediaan pangan dan energi serta tidak menutup kemungkinan akan menambah jumlah kemiskinan di daerah ini.C


Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026