Perlu tumbal untuk mengungkap jaringan mafia tambang di Kalimantan Selatan dan beberapa daerah di Indonesia yang kaya sumber daya alam, kata Direktur Eksekutif Walhi Pusat Berry Nahdian Furqon di Banjarmasin, Selasa.

Jaringan mafia tambang di Kalsel maupun daerah lain di Indonesia saat ini sudah sangat kronis sehingga  berat untuk memulai pengungkapannya kendati bukti telah cukup.

"Saya rasa masing-masing instansi dan kementerian terkait sudah cukup memiliki bukti kuat tinggal melakukan koordinasi namun faktanya hingga kini mafia tambang belum juga terungkap," katanya.

Berry menyadari untuk mengungkap mafia tambang tidak mudah dan merupakan tugas cukup berat karena jaringannya sudah begitu menggurita tidak hanya melibatkan oknum tertentu tetapi juga penguasa.

Dengan demikian, kata dia, perlu ada tumbal orang yang benar-benar tahu jaringan bahkan kalau perlu juga sebagai pelaku dari proses terjadinya mafia perizinan tambang.

Menurut Berry, mafia tambang sudah terbentuk cukup lama sehingga tantangannya cukup berat untuk mengungkap salah satu cara hanya dengan dorongan publik yang cukup luas baru hal tersebut bisa diberantas.

Saat ini, kata dia, pihaknya telah mendapatkan data terkait mafia tambang dan perusahaan yang melakukan pelanggaran dan sebentar lagi akan dilaporkan keaparat terkait.

"Tapi saya tidak bisa menyebut oknum yang akan kita laporkan itu," katanya.

Berry berharap, keinginan dan pernyataan anggota Satgas Anti Mafia Hukum, Denny Indryana untuk memberantas mafia tambang mendapatkan dukungan kuat dari pihak-pihak terkait jangan sampai keinginan tersebut kembali tenggelam tanpa ada reaksi apa-apa.

Selain itu, kata dia, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga harus lebih tegas terhadap pelaku usaha yang tidak sesuai prosedur Kementerian Kehutanan.

Menurut dia, masih banyaknya kepala daerah yang belum melaporkan kegiatan perizinan tambang, perkebunan dan lainnya dalam kawasan hutan harus menjadi perhatian serius.

Langkah tersebut, kata dia, semata-mata untuk menyelamatkan lingkungan Kalsel dan daerah lainnya dari kehancuran yang diprediksi terjadi pada 2030 atau pada saat hasil tambang habis dieksploitasi.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026