Banjarmasin (ANTARA) - Mahasiswa Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali berunjukrasa ke "Rumah Banjar" atau Gedung DPRD provinsi setempat di Banjarmasin, sesudah Shalat Jum'at, mengajukan sembilan tuntutan. 

Kesembilan tuntutan yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalsel itu antara lain mendesak aparat penegak hukum untuk mengungkap aktor intelektual dan pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. 

Menuntut pemerintah pusat untuk mengevaluasi transparansi terkait penyaluran anggaran makanan bergizi gratis atau MBG, menolak penggusuran lahan oleh aparat TNI terhadap masyarakat Sidomulyo. 

Selain itu, menuntut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktek tambang ilegal serta memberantas mafia tanah dan pencemaran lingkungan.

Pengunjukrasa yang mengatasnamakan BEM se-Kalsel itu juga menolak penetapan Taman Nasional Meratus. 

Sekretaris DPRD atau Sekwan Kalsel Muhammad Jaini ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya menyatakan, pada prinsipnya lembaga legislatif provinsi setempat terbuka serta siap menerima dan menyalurkan aspirasi masyarakat sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. 

"Sesuai tuntutan pengunjukrasa, yang menerima mereka itu, rencananya dari Korem 101/Antasari, Polda serta Dinas Lingkungan Hidup Kalsel dan pengelola MBG provinsi setempat," ujarnya. 

Sedangkan dari DPRD Kalsel yang menerima pengunjukrasa tersebut rencananya Wakil Ketua H Kartoyo dan HM Alpiya Rahman. Karena Ketua Dewan H Supian HK sedang mengikuti Retret di Akmil Magelang, Jawa Tengah (Jateng), demikian M Jaini. 

Sementara aparat Kepolisian Daerah Kalsel sejak pagi atau sekitar pukul 09.00 Wita sudah siap siaga di Rumah Banjar untuk pengamanan. 



 



Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026