Hal itu terjadi karena beberapa kawasan Barito Kuala (Batola) yang diapit dua sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas Kalimantan Tengah (Kalteng) genangan airnya hingga kini masih tinggi, demikian dilaporkan dari Banjarmasin, Minggu.
Akibat genangan air tersebut sejumlah persemaian benih/bibit padi jadi terendam, ungkap Rukaiah warga Sungai Puntik, Kecamatan Mandastana, Batola dalam perbincangan dengan ANTARA.
"Semaian padi yang bakal menjadi anakan untuk bercocok tanam sekarang banyak yang terendam hingga persemian tidak terlihat lagi," tutur ibu tiga anak saat berada di Banjarmasin.
Genangan air yang tinggi sampai merendam persemaian benih padi itu karena guyuran hujan di hulu Sungai Barito dan Kapuas Kalteng sehingga menimbulkan banjir dan luapan bukan saja menggenagi persawahan tapi juga kawasan permukiman penduduk.
"Selain itu karena pengaruh air pasang sehingga arus bah tidak bisa segera turun. Keadaan tersebut juga berdampak pada kerusakan jalan pedesaan," lanjutnya.
Warga daerah pasang surut Batola berharap musim hujan segera berakhir sehingga mereka bisa melakukan aktivitas pertanian seperti bercocok tanam padi di sawah.
"Kalau keadaan cuaca seperti sekarang warga tani 'Bumi Salidah' Batola khawatir tidak akan bisa bercocok tanam padi karena genangan air yang tinggi," demikian Rukaiah.
Batola yang juga merupakan daerah peneriman transmigrasi, salah satu sentra pertanian dan sebagai lumbung padi Kalsel.
Hasil produksi pertanian Batola bukan saja untuk kebutuhan lokal tetapi juga ke Banjarmasin, ibukota Kalsel dan sekitarnya dan bahkan sampai provinsi tetangga Kalteng.*6*
: Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.