Mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, almarhum H Syamsul Mu'arif, kelahiran Desa Batang Kulur Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan, patut diusulkan mendapat penghargaan pemerintah berupa Bintang Mahaputra.


         "Dengan melihat dedikasi dan pengabdiannya, Syamsul Mu'arif, putra daerah Banjar Kalsel yang lahir 8 Desember 1948 itu, patut diusulkan mendapat Bintang Mahaputra," ujar H Abdul Latief Hanafiah, anggota DPRD tingkat provinsi tersebut, di Banjarmasin, Rabu.

         Menurut alumnus Intitut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Barat itu, Syamsul Mu'arif cukup berjasa dalam membangun daerah dan masyarakat Kalsel, dan bahkan secara nasional, ketika almarhum menjadi Meneg Kominfo dalam Kabinet Gotong Royong di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri.

         Anak Desa Batang Kulur (sekitar 135 kilometer utara Banjarmasin) itu, selain agamis karena latar belakang pendidikannya alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, juga berjiwa dan bersikap nasionalis.

         Sebagai salah satu contoh, ketika almarhum menjadi anggota DPR-RI dari Partai Golkar, dalam sikap juang dan perjuangannya tidak terlalu mengutamakan kelompok atau golongan sendiri, tapi memandang sama terhadap kelompok atau golongan lain.

         Begitu pula ketika almarhum sebagai Meneg Kominfo, yang bersangkutan tidak hanya menumpukan perhatian terhadap Kalsel yang berupakan daerah kelahirannya, tapi juga kepada daerah lain di Indonesia.

         "Bahkan dalam satu acara-acara nasional, almarhum terkesan lebih banyak mendekat dengan orang-orang dari lain dari, warga asal Kalsel, guna menghindari kesan kolusi dan nepotisme," lanjut aktivis Eksponen Angkatan 66 itu, yang juga putra mantan Menteri Agraria tahun 1950-an.

         "Almarhum Syamsul nampaknya punya kelebihan dibandingkan dengan generasi urang Banjar Kalsel lain yang menasional pada era 1970-an. Oleh karena itu, wajar kalau almarhum diusulkan mendapat anugrah Bintang Mahaputra," demikian A Latief.

         Almarhum meninggal dunia di rumah sakit Singapura, 3 April 2012, sekitar pukul 09.40 waktu setempat, karena kanker paru yang baru diketahui dalam dua tahun terakhir.

         Beberapa catatan karir politik dan keorganisasian sebelum almarhum meninggal dunia, antara lain Ketua Umum Dewan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kalimantan.

         Selain itu, Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalsel, Ketua Fraksi Partai Golkar DPR-RI dan terakhir Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Ormas Nasional Demokrat.

         Almarhum yang meninggal dunia dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di desa kelahirannya pada Rabu sekitar pukul 08.00 Wita itu, meninggalkan seorang istri Hj Zubaidah, serta enam orang anak dan seorang cucu.

         Kedatangan jenazah almarhum ke Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Selasa menjelang tengah malam, menggunakan pesawat khusus (cateran), disambut Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah provinsi setempat.

         Selain ratusan warga masyarakat lainnya, turut menyambut kedatangan jenazah tersebut mantan Gubernur Kalsel HM Said, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) provinsi setempat H Ahmad Makkie, yang juga sahabat akrab almarhum.

         Pemakaman almarhum juga dihadiri Rektor IAIN Antasari Banjarmaisn Prof Dr H Akhmad Fauzi Asrie, yang juga putra daerah "Bumi Antaludin" HSS./shn/D


Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026