Mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif meninggal dunia di rumah sakit di Singapura, Selasa 3 April 2012 itu, dikenal sebagai seorang organisator yang sukses.
Banyak rekan-rekan almarhum, baik dalam satu organisasi maupun organisasi lain, yang tidak seberuntung anak desa Batang Kulur Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan, kelahiran 8 Desember 1948 itu.
Salah satu kesuksesan alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin itu saat mendapat kepercayaan menjadi Menkominfo pada masa Kabinet Gotong Royong di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dalam meniti karir berorganisasi, ayah dari tiga anak itu turut berkecimpung di Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sejak kuliah di Fakultas Syari'ah Kandangan (135 Km utara Banjarmasin), yang merupakan filial IAIN Antasari.
Dalam organisasi intra perguruan tinggi, almarhum sempat menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN Antasari. Sementara pada organisasi ekstra perguruan tinggi, pernah sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Kalimantan.
Jenjang menuju karir organisasi politik selanjutnya, almarhum menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kalsel serta Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tingkat provinsi tersebut. Melalui penempaan di PII dan HMI, membuat almarhum matang berorganisasi, berkarir politik lewat Golongan Karya (Golkar) hingga menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar DPR-RI.
Almarhum meninggal dunia karena kanker paru, yang baru terdeteksi, sehingga penyakitnya sudah terlanjur parah dan tak mungkin lagi diobati berdasarkan ilmu medis.
Pekerja dan Pemikir Dalam meniti karir kehidupan, mantan aktivis PII dan HMI itu pindah dari Kandangan ke Banjarmasin, seiring dengan rasionalisasi perguruan tinggi Tahun 1972, karena tak ada lagi Fakultas Syari'ah di kota dodol Kalsel tersebut.
Ketika berada di Banjarmasin, almarhum tidak pernah surut berorganisasi, bahkan melejit berkat sikap kerja keras dan pemikirannya yang terus mau maju. Syamsul Muarif memang seorang pekerja dan pemikir, sehingga tidak bisa dipungkiri dari hasil kerja dan pemikirannya tersebut, yang bersangkutan mendapat status civil yang baik.
Sebagai salah satu contoh bentuk kerja keras dan tak kenal pamrih dari almarhum, saat menjadi Ketua Umum Badko HMI Kalimantan dan melakukan kunjungan kerja ke Balikpapan dan Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) Tahun 1976.
Dengan naik sepeda motor bebek merk Suzuki, mendapat sambutan hangat, mesra dan intim dari anggota HMI di "kota minyak" Balikpapan dan Samarinda. Karena pada waktu itu (1976), kondisi jalan Banjarmasin - Samarinda, tidak semulus seperti beberaba tahun belakangan, dan bahkan seperti Gunung Batu Babi penuh dengan bebatuan besar, yang harus didaki.
Selain itu, masih banyak ruas jalan antara perbatasan Kalsel - Kaltim menuju Samarinda, berupa jalan tanah, sehingga jika hujan turun sepeda motor tak bisa dikendarai, karena terganjal gumpalan tanah.
Karena kerja dan pemikirannya itu, orang menghargai atau memberi kepercayaan untuk menduduki suatu jabatan di organisasi, yang pada gilirannya menghantarkan almarhum menjadi Menteri Kominfo. Menteri Kelima Orang Banjar Almarhum Syamsul Muarif, merupakan orang Banjar Kalsel kelima yang menjadi menteri dalam sistem pemerintahan di Indonesia, sejak Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Orang Banjar pertama yang menjadi menteri, yaitu Ir Pangeran Mohammad Noor, Gubernur Kalimantan pertama dan menjadi Menteri Pekerjaan Umum.
Selain itu, HM Hanafiah asal Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalsel sebagai Menteri Agraria, serta Dr (Hc) KH Idham Chalid pernah sebagai Wakil Perdana Menteri saat Presiden Soekarno dan Menteri Sosial.
KH Idham Chalid asal Amuntai HSU, yang mendapat gelar Pahlawan Nasional itu, juga pernah sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada masa Presiden Soeharto.
Kemudian H Sa'dilah Mursid sebagai Menteri Muda Urusan Kabinet dan terakhir menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) pada masa Presiden Soeharto.
Pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), putra daerah Banjar Kalsel kembali mendapat kepercayaan duduk dalam Kabinet Indonesia Bersatu, yaitu Gusti HM Hatta sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Selanjutnya dalam perubahan Kabinet Indonesia Bersatu tersebut, akademisi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin itu masih mendapat kepercayaan sebagai Menteri Riset dan Teknologi.shn/C /D
Pewarta: Syamsuddin Hasan Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.