Seorang pengamat sosial politik di Kalimantan Selatan, H Abdul Latief Hanafiah berpendapat, nilai perjuangan Angkatan 66 yang dikenal dengan Tri Tura (tiga tuntutan rakyat), masih aktual.
Tri Tura yang menjadi perjuangan Angkatan 66 ketika itu di bawah kepemimpinan nasional Presiden Soekarno, yaitu menuntut turunkan harga sandang pangan, bubarkan kabinet 100 menteri dan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama antek-anteknya, ungkapnya di Banjarmasin, Jumat.
"Secara formal Tri Tura itu sudah berlalu dan dilaksanakan, terutama tuntutan bubarkan 100 menteri dan PKI. Tapi secara filosofis dan sosiologis belum terwujud dan masih memerlukan kebersamaan dalam memperjuangkan," lanjutnya.
"Apalagi tuntutan turunkan harga sandang pangan, yang pada hakekatnya menuntut perbaikan ekonomi dan tingkat kesejahteraan rakyat, belum terpenuhi," tandasnya menjawab ANTARA Banjarmasin, berkenaan peringatan ke-46 gugurnya pahlawan Ampera Hasanuddin HM Tahun 2012.
Menurut mantan aktivis Angkatan 66 asal mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, tuntutan bubarkan kabinet 100 menteri tersebut pada hakekatnya meminta sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Begitu pula tuntutan bubarkan PKI bersama antek-anteknya, pada hakekatnya masyarakat Indonesia mengingingkan sistem perpolitikan yang sehat, tidak saling "adu domba" atau provokasi, sehingga menimbulkan konflik.
"Dari tiga tuntutan, perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, ciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa atau bebas dari korupsi, serta sistem perpolitikan yang sehat itu sudah terwujud? Jawabannya pada kita semua," demikian Abd Latief.
Oleh karenanya, eksponen Angkatan 66, kelahiran Amuntai, Kabupaten Hulu Utara (HSU) Kalsel yang juga anggota DPRD tingkat provinsi tersebut mengaku, prihatin dengan keadaan perekonomian, pemerintahan dan perpolitikan belakangan ini.
Hasanuddin HM, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Pahlawan Ampera di Indonesia yang gugur pertama kali, 10 Februari 1966 atau sebelum gugurnya Pahlawan Ampera Arief Rahman Hakim, mahasiswa Universitas Indonesia Jakarta.
Gugurnya mahasiswa Unlam yang masih duduk di tingkat persiapan tersebut, sepulang demonstrasi dari Konsulat Republik Rakyat Tjina (RRT) ketika itu, kena tembakan anggota Jon K Kodam Deponegoro Jawa Tengah yang di-BKO-kan di Banjarmasin.
Untuk mengenang almarhum, pemerintah daerah setempat mengabadikan nama Hasanuddin HM, antara lain pada nama jalan, gelanggang olahraga dan remaja, serta sebuah masjid di ibukota Kalsel./shn
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.