Batulicin (ANTARA) - Komunitas Rumah Pena BerAksi di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, segera merilis buku Suara dari Tenggara.

"Kami baru saja mengumumkan 44 nama penulis yang karyanya masuk dalam antologi Suara dari Tenggara tentang pikiran, manusia, dan catatan zaman," kata Editor Buku Suara dari Tenggara, Puja Mandela, di Batulicin Senin.

Puja mengatakan, buku itu diharapkan bisa menjadi bahan referensi soal literasi daerah, bahan ajar penulisan opini-esai bagi para guru bahasa Indonesia.

Buku Suara dari Tenggara menghimpun 47 karya esai dan opini, di antaranya dari pelajar, guru, dosen, jurnalis, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, hingga pekerja kreatif di Kalimantan Selatan.

Buku Suara dari Tenggara akan menjadi buku antologi esai dan opini pertama di Kabupaten Tanah Bumbu, karena selama ini di wilayah tersebut hanya akrab dengan penulisan puisi dan cerpen.

Baca juga: Dispersip Tanah Bumbu perkuat kolaborasi literasi bersama Rumah Pena BerAksi
 

Dalam pembuatan buku itu, penyelenggara juga melibatkan tujuh penulis tamu dari Kota Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar agar perspektif dalam buku tersebut lebih luas dan beragam.

Menurut Puja, antologi tersebut disusun sebagai ruang bersama untuk merekam kegelisahan sosial, perubahan budaya, pendidikan, hingga dinamika kehidupan masyarakat modern di tengah perkembangan teknologi digital.

Selain membahas pendidikan dan budaya membaca, antologi ini juga memuat berbagai refleksi tentang perubahan manusia di era modern, mulai dari kebisingan media sosial, budaya instan, AI, krisis komunikasi, dunia jurnalistik, hingga kegelisahan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.

"Awal penerbitan, insya Allah kami akan mencetak sebanyak 150-200 eksemplar," terang Puja.

Baca juga: Komunitas di Tanah Bumbu siap meriahkan talkshow literasi Rumah Pena BerAksi

Sementara itu, Duta Baca Indonesia, Gol A Gong menyambut baik atas rencana penerbitan buku Suara dari Tenggara yang digagas oleh komunitas Rumah Pena berAksi.

Gol Agong juga menyampaikan selamat atas penulisan buku tersebut.

"Selamat merayakan buku," ucap Gol A Gong.

Berikut daftar penulis antologi Suara dari Tenggara:

1. Akar Pondasi Goyah, Pohon Literasi Tumbang — Irma Wulandary.
2. Alarm Kondisi Literasi dan Numerasi di Sekolah — Muhammad Aliansyah.
3. Berpikir untuk Mendengar — Toto Fachrudin.
4. Berpikir, Merasa, dan Memahami Dunia — Kaekaha.
5. Budaya Copas — Man Hidayat.
6. Buku adalah Jendela Dunia? — Oldra Karlinda.
7. Bunyi-bunyian yang Tumbuh Perlahan — Richy Petroza.
8. Cepat Berbagi, Lambat Memahami — Sri Purwanti.
9. Dangdut Caramel Macchiato Plus Cuka — Sainul Hermawan.
10. Dewan Kesenian Bukan Kursi Megah Raja — Novyandi Saputra.
11. Ekosistemnya Dulu — Kahar Acink.
12. Generasi MBG vs Generasi Literat — Sandi Firly.
13. Generasi Pembaca Tidak Lahir dari Orang Tua yang Sempurna — Gyoti Nusu.
14. Hijau Bukan Sekadar Warna — Halimatus Sadiah.
15. Investasi Leher ke Atas — Agus Heriyandi.
16. Jika Literasi Tak Sampai ke Pinggiran — Anang Azmi.
17. Jurnalis: Mabuk dan Menangis — Zalyan Shodiqin Abdi.
18. Ketika Literasi Kalah oleh Notifikasi — Kailla Sanabil Hazrina.
19. Ketika Membaca Dianggap Berbahaya — Lalu A. Maulana.
20. Ketika Nama-nama itu Disebut Lagi — Eche Subki.
21. Kontrak dan Kritik — Zulqarnain.
22. Kontraktor Literasi dan Sastra yang Tak Menghidupi — Puja Mandela.
23. Krisis Membaca di Ruang Guru — Indah Dwi Rohmah.
24. Lipstik Delapan Huruf — Puja Mandela.
25. Literasi Bukan Hanya Diksi — Ilham Bahari.
26. Membaca Dunia, Merajut Imajinasi — Pasha Ali Rasyid.
27. Membangun Budaya Membaca dari Rumah — Dadik Historia.
28. Membiasakan, Bukan Memaksakan — Aditya Irfiandi.
29. Mending Jurnalisme Kepiting Ketimbang Jurnalisme Siput — Muhammad Syarafudin.
30. Mengurai Kebisingan Publik — Muh. Sulfihidayatullah.
31. Memanjangkan Napas, Merawat Eksistensi — Ahmad Maulana.
32. Mereka Bilang Itu Membosankan — Annisa Rania.
33. Menyentuh Hati, Menggerakkan Harapan — Asniyati.
34. Modern Tapi Kesepian — Syahriadi.
35. Obat, Dosis dan Informasi — Sujud Mariono.
36. Penulis Jangan Lahir Dulu — Rafii Syihab.
37. Rak Kosong Perpustakaan — Zulqarnain.
38. Remedialisme — Ayu Sita.
39. Ruang Pulang di Tanah Rantau — Andi Utari Putri.
40. Secarik Kertas dari Belakang — Muhammad Bulkini
41. Smart Teen in AI Era — R. Kayla.
42. Satu Kata Paling Bermakna — Hasni Maulida.
43. Sudut Jendela: Antara AI dan Kita yang Miskin Kata — Ismail.
44. Untuk Siapa Literasi Itu? — Arif Rachman.
45. Wartawan Seremonial — Puja Mandela.
46. Wartawan, LSM, dan Kaburnya Batas — Andrianto Mokodompit.
47. Kami Diberi Dunia di Genggaman, Tapi Tanah Kami Masih Sunyi Pemahaman — Rouselline Renata Ramadhanti.



Pewarta: Sujud Mariono
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026