Waktu kami meninjau saat banjir, kondisi bangunan sudah miring dan mengkhawatirkan. Itu sudah menjadi catatan kami,
Rantau (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, memproses penanganan ruang kelas ambruk di SDN Binuang 10, Kelurahan Raya Belanti, Kecamatan Binuang, dengan menunggu tahapan perencanaan dan penganggaran sesuai prosedur.
Wakil Bupati Tapin H Juanda di Rantau, Senin, mengatakan kondisi bangunan sekolah tersebut sebenarnya telah menjadi perhatian sejak awal 2026, terutama setelah terdampak banjir di wilayah Raya Belanti.
“Waktu kami meninjau saat banjir, kondisi bangunan sudah miring dan mengkhawatirkan. Itu sudah menjadi catatan kami,” ujar Juanda.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah telah mengusulkan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan, namun realisasi anggaran harus melalui mekanisme yang berlaku.
“Ada proses yang harus dilalui. Tidak bisa serta-merta langsung dikerjakan tanpa perencanaan anggaran yang jelas,” katanya.
Juanda menyebutkan, pembongkaran bangunan tidak dapat dilakukan sembarangan karena statusnya sebagai aset milik Dinas Pendidikan Kabupaten Tapin yang memerlukan persetujuan sesuai ketentuan.
“Bukan berarti kami lalai atau lambat, tapi memang ada prosedur yang harus diikuti,” ucap Juanda.
Juanda menambahkan, saat ini proses perencanaan telah berjalan dan memasuki tahap penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan.
"Perbaikan akan difokuskan pada ruang kelas yang mengalami kerusakan," tambahnya.
Pemerintah daerah, ucap Juanda, memastikan penanganan akan dilanjutkan agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu dalam jangka panjang.
Sementara itu, Kepala SDN Binuang 10 Yani mengatakan, bangunan yang ambruk telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sejak Januari 2026 setelah banjir melanda.
“Yang miring itu sudah sejak Januari, setelah kejadian banjir. Jadi kami sudah mengantisipasi, terutama jaringan listrik, agar tidak membahayakan,” ujarnya.
Baca juga: Industri batu bara lesu picu PHK 80 pekerja di Tapin
Ia menyebutkan, sebelum ambruk bangunan sempat mengeluarkan bunyi retakan. Peristiwa robohnya ruang kelas terjadi pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 12.00 Wita saat kondisi sekolah sedang tidak ada aktivitas.
“Waktu kejadian sekitar jam 12-an, situasinya lagi sepi karena hari Minggu. Jadi tidak ada siswa di dalam kelas,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, ucap Yani, sebanyak 12 siswa kelas VI terdampak dan sementara mengikuti kegiatan belajar di ruang madrasah terdekat.
“Selama beberapa bulan ini kelas VI memang sudah kami pindahkan ke madrasah,” katanya.
Pewarta: Muhammad Rastaferian PasyaEditor : Firman
COPYRIGHT © ANTARA 2026