Banjarmasin (ANTARA) - Mahasiswa Kalimantan Selatan (Kalsel) berunjukrasa lagi ke "Rumah Banjar" atau Gedung DPRD provinsi setempat di Banjarmasin, Rabu kelanjutan Jum'at (17/4/2026) mengajukan sembilan tuntutan. 

Kesembilan tuntutan yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalsel itu antara lain mendesak aparat penegak hukum untuk mengungkap aktor intelektual dan pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. 

Menuntut pemerintah pusat untuk mengevaluasi transparansi terkait penyaluran anggaran makanan bergizi gratis atau MBG, menolak penggusuran lahan oleh aparat TNI terhadap masyarakat Sidomulyo. 

Selain itu, menuntut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktek tambang ilegal serta memberantas mafia tanah dan pencemaran lingkungan.

Pengunjukrasa yang mengatasnamakan BEM se-Kalsel itu juga menolak penetapan Taman Nasional Meratus. 

Ketika dikonfirmasi, Kepala Bagian Persidangan dan Perundang-undangan  Sekretariat DPRD Kalsel  HM Andri Yuzhar mewakili Sekretaris Dewan setempat membenarkan rencana unjuk rasa tersebut sesudah Shalat Dzuhur. 

Baca juga: CSR diharapkan efektif mempercepat capaian pembangunan berkelanjutan

Dalam unjuk rasa kali ini, mereka meminta kehadiran Ketua DPRD Kalsel, Komandan Korem 101/Antasari, DanDenPOM, serta Kepala Denzipur 08 Banjarbaru. 

Selain itu, kehadiran Kepala Satgas Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalsel, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup provinsi setempat. 

Sedangkan dari DPRD Kalsel yang menerima pengunjukrasa tersebut rencananya Ketua H Supian HK kendati kesehatan kurang prima serta Sekretaris Komisi II DPRD provinsi setempat, Haji Jahrian. 

Sementara aparat Kepolisian Daerah Kalsel sejak pagi atau sekitar pukul 10.00 Wita sudah siap siaga di Rumah Banjar untuk pengamanan. 



Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026