Banjarmasin (ANTARA) - Arus mudik di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) pada "H" plus 1 dan 2 lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah (versi Ru'yatul Hilal) masih padat dan macet. 

Pewarta Antara Kalsel yang melakukan perjalanan ke daerah Hulu Sungai atau "Banua Anam" provinsi tersebut, Senin melaporkan, pada H+1 mobil seakan merayap. 

Banua Anam Kalsel meliputi Kabupaten Tapin dengan ibukotanya Rantau (117 km utara Banjarmasin), Hulu Sungai Selatan (HSS) dengan ibukotanya Kandangan (135 km dari Banjarmasin) , dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dengan ibukotanya Barabai (165 km timur laut Banjarmasin). 

Selain itu, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dengan ibukotanya Amuntai (185 km utara Banjarmasin), Balangan dengan ibukotanya Paringin (217 km dari Banjarmasin), dan Kabupaten Tabalong dengan ibukotanya Tanjung (237 km utara Banjarmasin). 

Sebagai contoh pada H+1 perjalanan dengan naik mobil dari Barabai - Kandangan yang berjarak 30 kilometer makan waktu lebih kurang dua jam karena kemacetan. Pusat kemacetan di pertigaan jalan Pantai Hambawang karena arus dari Barabai, Amuntai dan Banjarmasin. 

Contoh lain di bundaran ketupat besar Kandangan menuju Rantau mobil nyaris tak bisa bergerak, sehingga rombongan keluarga Syam putar haluan mau lewat jalan alternatif Kandangan - Margasari, Tapin - Sungai Gampa, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel. 

Baca juga: Makam Datu Kandang Haji Balangan ramai dikunjungi peziarah saat lebaran

Namun juga alami kemacetan di Margasari, sehingga yang biasa Kandangan - Banjarmasin makan waktu naik mobil cuma dua setengah jam, pada H+1 dari pukul 14.00 Wita hampir pukul 18.00 Wita baru tiba. 

Situasi arus mudik di Margasari Kabupaten Tapin pada H+1 lebaran Idul Fitri 1447 H. (ANTARA/Syamsuddin Hasan)

Begitu pula pada H+2 kelaurga Asti dari Kandangan pukul 10.30 Wita hingga pukul 14.00 Wita baru sampai Binuang Tapin (berjarak sekitar 50 km) dan masih melalui beberapa titik kemacetan antara lain simpang tiga Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalsel. 

Kemacetan di simpang tiga Astambul karena arus keluar - masuk peziarah ke makam Datuk Kulampaian atau Syekh Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari pengarang Kitab Sabilal Muhtadin, seorang tokoh ulama terkenal masa Kerajaan Banjar, Sultan Adam.



Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026