Selama 2016, titik panas permukaan bumi yang diamati oleh beberapa sensor salah satunya adalah yang digunakan oleh BMKG yaitu sensor MODIS pada satelit TERRA, dan AQUA di Kotabaru ditemukan 32 titik panasKotabaru (Antaranews Kalsel) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, selama 2015 berhasil mendeteksi sebanyak 1.082 titik api atau "hotspot" di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Kepala Stasiun Meteorologi Gusti Syamsir Alam Kotabaru Cucu Kusmayancu, melalui Forecaster atau Prakirawan Ibnu Hidayat, Selasa, menjelaskan lokasi yang terdeteksi di wilayah Pulaulaut Timur sebanyak 159 titik, Pulaulaut Selatan 121 titik dan Hampang 114 titik.
"Selama 2016, titik panas permukaan bumi yang diamati oleh beberapa sensor salah satunya adalah yang digunakan oleh BMKG yaitu sensor MODIS pada satelit TERRA, dan AQUA di Kotabaru ditemukan 32 titik panas," kata Ibnu pada Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), di Kotabaru.
Titik panas tersebut terdeteksi di Wilayah Kelumpang Utara sebanyak 7 titik panas, Sampanahan sebanyak 6 titik panas, dan Pamukan Selatan sebanyak 4 titik panas.
Hingga 28 Agustus 2017, di Wilayah Kotabaru ditemukan 11 titik panas, yakni di Pulaulaut Utara sebanyak 5 titik panas, Pamukan Selatan terdapat 4 titik panas, dan Pamukan Utara, serta Pulau Sebuku masing-masing satu titik panas.
Kapolres Kotabaru Ajun Komisaris Besar Polisi H Suhasto, mengajak Stakeholder yang hadir dalam rakor kali ini, untuk bersama-sama bersatu melakukan pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Suhasto, ada dua dampak diakibatkan oleh asap dari kebakaran hutan dan lahan, yakni dampak ekonomi dan kesehatan.
Salah satu dampak ekonomi, adalah asap dari kebakaran hutan dan lahan bisa mengganggu penerbangan pesawat, sehingga banyak jadwal penerbangan terpaksa ditunda.
Dampak kesehatan, asap telah mengakibatkan banyak masyarakat terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan akut (Ispa), anak sekolah terganggu dan yang lainnya.
Dan tidak kalah pentingnya, negara tetangga Indonesia resah akibat asap yang dihasilkan dari terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan, maka diperlukan sinergitas antar lembaga pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Kapolres meminta tiga komponen penting sebagai ujung tombak untuk melakukan pencegahan Karhutla, yakni, kepala desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bintara Pembinanaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkabtibmas).
"Tiga komponen ini harus bersatu dan meningkatkan aktifitasnya dalam melakukan sosialisasi dan deteksi dini apabila ditemukan titik api," katanya.
Suhasto juga meminta perusahaan perkebunan atau yang lainnya, untuk melibatkan diri dan proaktif dalam melakukan pencegahan, dengan menyiapkan sarana dan prasana pemadam, membangun embung, dan membangun pos pantau, serta menyiapkan petugas.
"Unsur kelalian akan hilang apabila itu dipenuhi, manakala terjadi kebakaran di lingkungan perusahaan," tukas Kapolres.
Kepada masyarakat, Suhasto meminta untuk menghilangkan kebiasaan membersihkan lahan dengan cara membakar, karena dapat membahayakan lingkungan sekitarnya.
Begitu juga dengan perusahaan perkebunan, agar dalam melakukan pembersihan lahan, "land clearing", atau "replanting" tidak membakar lahan.***4***
(T.I022/B/A029/A029) 29-08-2017 18:45:26
Pewarta: Imam HanafiEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.