Tanjung (ANTARA) - Jambu citra salah satu varietas jambu air unggulan berhasil "dipopulerkan" oleh salah satu petani di Kelurahan Jangkung Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan Fajaruddin dengan produksi mencapai tiga ton per tahun.
Fajaruddin menyebutkan ada delapan varietas jambu air yang berhasil dibudidayakannya salah satunya varietas jambu citra dan Mekar Sari secara mandiri di lahan seluas satu hektare tanpa bantuan dari pemerintah daerah.
Baca juga: Tapin cetak sawah baru, lirik petani milenial
"Total 200 pohon jambu air yang saya budidayakan dan sekitar 100 pohon lebih telah berbuah," jelas Fajaruddin di Tabalong, Senin.
Sebagai petani hortikultura ia mengakui biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan tanaman buah lebih mahal dibanding tanaman pangan seperti padi.
Namun ia tetap berharap mendapat dukungan pemerintah daerah khususnya memperluas pemasaran yang saat ini masih terbatas serta sarana pendukung seperti pembuatan embung untuk kebutuhan air bagi tanaman.
"Permintaan jambu air di Tabalong memang cukup tinggi dan kita ingin pemerintah daerah bisa membantu menyiapkan pasar bagi petani buah lokal," ungkapnya.
Misalnya menjadikan jambu air sebagai buah meja saat kegiatan seremoni atau syukuran lingkup Pemkab Tabalong.
"Pasokan air untuk kebutuhan tanaman juga masih terbatas khususnya di saat musim kemarau seperti saat ini," ungkapnya.
Selain budidaya jambu air Fajaruddin juga mengembangkan 20 jenis buah-buahan mulai dari durian lokal hingga unggul, jeruk, alpukat, nenas, cempedak, Langsat dan belimbing.
Lokasi kebun milik Fajaruddin sebenarnya tidak jauh dari jalan kabupaten, sekitar 500 meter namun sumber air yang tersedia masih belum optimal.
Baca juga: Wabup HSS : Pemkab berkomitmen dukung petani dengan berbagai program
Padahal kebun buah miliknya sering mendapat kunjungan dari para siswa, Dinas Pertanian Provinsi Kalsel maupun Kabupaten Tabalong termasuk kelompok masyarakat lainnya namun hingga kini masih minim bantuan.
Pewarta: Herlina LasmiantiEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.