Dr Haji Karyono Ibnu Ahmad mengatakan, manusia haji atau yang sudah menunaikan rukun Islam kelima, yaitu manusia yang tidak akan mengenal putus asa dalam menjalani kehidupan.
Haji juga harus sabar, sebagaimana halnya perilaku Nabi Ismail Alaihi Salam (AS), lanjut dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) itu saat khotbah Jumat di Masjid Iqra - Mahligai Al Quran Banjarmasin.
Sedangkan sikap tak kenal putus asa itu, sebagaimana Siti Hajjar, ibunda dari Nabi Ismail as yang berlari-lari tujuh kali dari Bukit Safa ke Bukit Marwa' yang dalam pelaksanaan ibadah haji dikenal dengan nama sa'i.
Menurut pengasuh bidang studi psikologi sosial itu, kalau manusia haji tak bisa sabar serta gampang putus asa, maka yang bersangkutan secara rohaniah belum haji, kendati secara fisik/lahirian sudah melaksanakan ibadah haji.
Hal lain yang tak kalah pentingnya bagi manusia haji, yaitu harus beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, guna mencapai kesempurnaan kehidupan di dunia serta di alam akhirat kelak.
"Karena kalau cuma bahagia dan sejahtera di dunia, lupa bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia sebagai bekal mencapai kebahagiaan dan kesejhateraan di akhirat, maka yang bersangkutan di akhirat nanti tak akan dapat apa-apa," tandasnya.
"Masih banyak lagi ciri-ciri perilaku manusia haji, kalau mau menyimak atau mendalami, baik yang termuat dalam Al Quran maupun contoh-contoh dari Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as dan Nabi Muhammad Saw," lanjutnya.
Dalam khotbahnya itu, akademisi dari Perguruan Tinggi Negeri tersebut, mencontohkan, negara yang masyarakatnya paling berbahagia di dunia, yaitu Denmark, sedangkan Amerika Serikat di urutan ke-17 dan Indonesia paling jauh lagi.
"Tapi kebahagiaan itu, hanya untuk dunia. Sedangkan untuk kebahagiaan di alam akhirat dapat dibayangkan sendiri. Karena selain pengangguran mendapat biaya dari negara, di Denmark itu juga terjadi seks bebasm" ungkapnya.
"Pembiayaan untuk para pengangguran tersebut berasal dari uang pajak dari perusahaan, yang besarannya mencapai 50 persen. Mungkin oleh karena tingginya pungutan pajak, sehingga pengusaha Denmark sendiri banyak berinvestasi keluar dari negerinya," demikian Karyono.
Pengambilan topik khotbah mengenai haji tersebut, seiring dengan mulai berdatangaan jemaah haji Indonesia, termasuk Kalsel dari menunaikan ibadah haji pada musim haji 1432 Hijriah/2011./shn*C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.