Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Bank Indonesia Kalsel Khairil Anwar usai pembukaan seminar dengan tema Perkembangan Ekonomi Terkini dan Perkembangan Ekonomi 2010-2011, yang diselenggarakan Bank Indonesia, Rabu.
Menurut Khairil, hujan lebat yang sering terjadi hampir di seluruh wilayah Kalsel, membuat kualitas batu bara dan kelapa sawit menurun drastis, sehingga pertumbuhan ekonomi Kalsel yang hampir 50 persen tertumpu pada dua sektor tersebut juga turun.
Targetnya, kata dia, pertumbuhan ekonomi Kalsel pada triwulan II-2010 adalah 6,04 persen namun ternyata hanya tumbuh 5,97 persen. Kendati demikian pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibanding triwulan I-2010 sebesar 5,39 persen.
"Setelah kami pelajari dan tanyakan langsung dengan para pengusaha tambang batu bara, menyatakan pada saat hujan turun, kualitas batu bara juga turun, apalagi kualitas sawit, kondisi ini mempengaruhi terhadap harga jual dua produk andalan Kalsel tersebut," katanya.
Dari sisi permintaan, laju pertumbuhan ekonomi Kalsel kata dia, terutama ditopang oleh kinerja konsumsi dan investasi, sementara kinerja ekspor melambat.
Sedangkan dari sisi penawaran atau sektoral, laju pertumbuhan ekonomi Kalsel terutama ditopang oleh kinerja sektor dominan, khususnya sektor pertanian, sektor pertambangan, dan sektor perdagangan sedangkan sektor industri pengolahan relatif stabil.
Menurut Khairil, untuk beberapa tahun kedepan, permintaan baru bara dari provinsi yang memiliki hasil tambang batu bara terbesar ke dua di Indonesia ini, akan terus meningkat dengan selesainya pembangunan proyek PLTU di Indonesia.
Kondisi tersebut, kata dia, akan kembali mendorong pertumbuhan ekonomi Kalsel menjadi lebih baik.
"Untuk tahun-tahun kedepan pertumbuhan ekonomi Kalsel masih tertumpu pada sektor pertambangan dan perkebunan, kendati kita juga mendorong sektor lain," katanya.
Tentang kerusakan alam yang ditimbulkan dari aktivitas ekonomi tersebut, kata Khairil, bukan kapasitas BI untuk memberikan komentar, karena BI hanya berwenang untuk menilai masalah perekonomian.
Sebelumnya, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Kalsel Gusti Yasni Iqbal mengatakan volume ekspor batu bara Kalsel naik 53 persen dari 19,8 ribu ton periode Januari-Juli 2009 menjadi 25 ribu ton lebih pada 2010 periode sama.
Kenaikan volume ekspor tambang batu bara terjadi karena permintaan beberapa negara importir hingga triwulan ke dua masih cukup tinggi.
Sedangkan ekspor minyak kelapa sawit pada periode sama hanya naik 13,12 persen dari 302,8 ribu ton pada 2009 menjadi 342,6 ribu ton. Kenaikan tersebut jauh lebih kecil dari biasanya yang bisa mencapai hingga 150 persen bahkan lebih.
Begitu juga dengan nilai ekspor kenaikkannya juga hanya 12,93 persen dari 205,4 miliar dolar AS menjadi 232 miliar dolar AS lebih.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.