Anggota Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalimantan Selatan, Ibnu Sina menyarankan komisinya mengundang peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat, yang meneliti kawasan konservasi Bunati, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.
"Komisi III DPRD Kalsel yang juga membidangi pertambangan dan energi, lingkungan hidup serta perhubungan, perlu mengundang peneliti Unlam yang meneliti kawasan konservasi Bunati, guna mengetahui lebih rinci mengenai penelitiannya tersebut," ujarnya di Banjarmasin, Minggu.
Pasalnya, menurut wakil rakyat dari PKS itu, hasil penelitian dari peneliti Unlam tersebut sudah terekspose pada berbagai media massa, yang berarti sudah menjadi milik publik dan wakil rakyat pun berhak untuk mengetahui lebih rinci.
Sementara dari hasil penelitian kawasan Bunati, yang kini terdapat pelabuhan khusus (Pelsus) batu bara, masih mengundang tanda tanya, lanjutnya saat silaturrahmi Idul Adha 1432 H dengan wartawan yang tergabung dalam Jurnalist Parliament Cummunity (JPC) Kalsel.
Sebagai contoh dari hasil penelitian tersebut membenarkan, kawasan konsevasi Bunati yang banyak menyimpan kekayaan sumber daya alam (SDA) laut berupa terumbu karang itu, membenarkan terjadinya pencemaran.
Namun peneliti tersebut tidak menyebut pencemaran perairan Bunati (sekitar 250 kilometer timur Banjarmasin) karena keberadaan Pelsus batu bara atau faktor-faktor lain, serta tak berani merekomendasi perlunya penutupan Pelsus di kawasan itu.
Sedangkan banyak orang menduga, pencemaran Bunati karena keberadaan Pelsus batu bara, sebab sebelum adanya prasarana angkutan itu atau aktivitas pengangkutan "emas hitam", kawasan konservasi tersebut tak tercemar.
"Memang peneliti senior di Fakultas Perikanan Unlam Banjarbaru itu, cukup 'kualified' dan beliau pernah dosen saya. Tapi tak salahnya kalau Komisi III DPRD Kalsel mengundang beliau, untuk meminta penjelasan dari hasil penelitiannya," demikian Ibnu Sina.
Sebelumnya, anggota Komisi II bidang ekonomi dan keuangan DPRD Kalsel, Gusti Perdana Kesuma dari Partai Golkar, mempertanyakan, hasil penelitian dari peneliti Unlam terhadap keadaan kawasan konservasi Bunati.
"Mengapa hasil penelitiannya terkesan setengah-setengah dan yang seakan disebunyikan. Apakah penelitian itu karena pesanan atau ada hal lain," tanya anggota Komisi II DPRD Kalsel yang juga membidangi kelautan dan perikanan itu.
Karena dari informasi masyarakat setempat, ungkap politisi muda Partai Golkar itu, seiring keberadaan aktivitas Pelsus batu bara di Bunati, kawasan tersebut jadi tercemar.
Oleh karenanya pula warga setempat tak bisa lagi mencari/menangkap ikan di sekitar pantai kawasan Bunati, terpaksa harus pergi jauh melaut dengan menghadap risiko gelombang tinggi.
Untuk itu, mantan Ketua Komisi III DPRD Kalsel tersebut, meminta, pemerintah daerah agar mengkaji ulang perizinan Pelsus batu bara di Bunati, guna tetap terjaganya terumbu karang serta biota laut lainnya.
"Sebab kalau keberadaan Pelsus itu dibiarkan, maka dikhawatirkan, bukan cuma merusak kelestarian terumbu karang Bunati, juga mengancam kehidupan biota laut lain," demikian Gusti Perdana.shn/B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.