Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, menargetkan mampu berswasembada daging pada 2014 melalui pengadaan bibit unggul dan pembinaan kelompok peternak.
Kabid Pengembangan Ternak Dinas Peternakan Kotabaru, Sugiwan, di Kotabaru, Selasa, Pemkab Kotabaru mulai memberikan bibit kepada peternak dan memberikan pembinaan intensif kepada kelompok peternak agar mampu melakukan pembiakan ternak secara baik.
"Pengadaan bibit sapi unggul tersebut dapat dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah, untuk pemerintah melalui dana APBD Kabupaten, APBD provinsi dan APBN melalui bantuan sosial," terangnya.
Sedangkan pengadaan bibit yang dilakukan masyarakat, melalui para pedagang sapi dan kelompok-kelompok petani dan peternak yang tersebar di 20 daerah kecamatan di Kotabaru.
Rata-rata jumlah bibit sapi yang didatangkan oleh pemerintah dan masyarakat berkisar 500 ekor per tahun.
"Sementara kebutuhan ternak sapi di Kotabaru sekitar 2.000-3.000 ekor pertahun," ujarnya.
Dan daerah hanya mampu mensuplai sekitar 60 persen dari kebutuhan tersebut, sehingga Kotabaru masih harus mendatangkan sekitar 40 persen dari kebutuhan.
Sapi-sapi tersebut didatangkan dari Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Tanah Bumbu dan Tanah Laut.
Saat ini, ujar Sugiwan, populasi sapi di Kotabaru sekitar 13.000 ekor.
Sugiwan menambahkan, rata-rata pertumbuhan populasi sapi di Kotabaru sekitar 9 persen dari sekitar 13.000 ekor.
Pertumbuhan tersebut sudah dikurangi dari kebutuhan untuk konsumsi dan kematian.
"Jika Pemerintah dan masyarakat mampun meningkatkan pengadaan bibit hingga 1.000 ekor per tahun, maka pada 2014 Kotabaru akan benar-benar mampu berswasembada daging," terangnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Kotabaru H Faizin ME, beberapa waktu lalu mengatakan, dua tahun terakhir populasi tenrak besar (sapi dan kerbau) menyusut dari 12.096 ekor pada 2009 menjadi 9.254 ekor pada 2011 atau turun sekitar 30 persen.
"Penyusutan bukan hanya terjadi pada ternak sapi potong saja, tetapi juga terhadap populasi ternak kerbau," katanya, pada suatu kesempatan.
Banyak faktor yang menyebabkan menyusutnya ternak besar, seperti sapi dan kerbau tersebut, ungkap Faizin usai melakukan pendataan terhadap populasi sapi dan kerbau di Kotabaru.
Di antaranya, semakin menyempitnya lokasi penggembalaan akibat perluasan lahan perkebunan kelapa sawit dan karet, serta tidak stabilnya harga jual ternak pada waktu-waktu tertentu.
Faktor lain juga, ujar Faizin, adalah budaya masyarakat peternak yang masih enggan memberikan laporan kepada petugas BPS dengan benar terhadap jumlah ternak yang dimiliki.
Mereka khawatir, suatu saat dikenakan pajak atau yang lainnya, sehingga informasi yang disampaikan peternak pada saat pendataan cenderung berkurang dari jumlah yang sebenarnya.
Sedangkan akibat penyempitan lahan penggembalaan tersebut menyebabkan para peternak enggan mencari rumput, sehingga mereka rame-rame menjual hewan ternaknya.
Sementara itu, tujuan dilakukannya pendataan populasi ternak sapi dan kerbau diantaranya, untuk data sistem perstatistikan nasional 2011, serta untuk menjamin ketersediaan data yang berkelanjutan.
Selanjutnya, pada 2012 dan seterusnya dilakukan pemeliharaan data secara mandiri oleh dinas peternakan kabupaten.
Pendatan sapi dan kerbau 2011 tersebut juga dilakukan dalam rangka program swasembada daging sapi dan kerbau pada 2014, yang dipandang sangat mendesak.
Pendataan yang selama ini dilakukan hanya didasarkan pada register (pelaporan) dari tingkat kabupaten/kota, sehingga lebih banyak bersifat estimasi./C/B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.