Petani kacang tanah di Kabupaten Tapin saat ini masih kesulitan mendapatkan benih unggul bermutu dalam mengembangkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) kacang tanah.

Pelaksana tugas Kabid Produksi dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Tapin Wagimin, Selasa,  mengatakan,  petani masih harus mendatangkan benih unggul dari pulau Jawa, karena  produksi dari balai benih provinsi Kalimantan Selatan dirasa masih sangat kurang.

Dijelaskan Wagimin, budidaya kacang tanah di Tapin selama ini hanya berupa kacang tanah jenis lokal.

"Jenis ini dulunya merupakan varietas unggul namun karena sudah menjalani masa tanam hingga beberapa turunan jenis ini kini sudah tidak bisa disebut sebagai varietas unggul lagi" ucapnya.

Menurut Wagimin dalam perkembangannya sekarang kacang tanah jenis lokal dinilai sudah tidak begitu bermutu yang menyebabkan hasil panen produksi juga mengalami penurunan dan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan akan kacang tanah saat ini.

"Untuk menyesuaikan kebutuhan pasar maka petani kacang tanah harus mendapatkan benih unggul yang bermutu agar mampu menghasilkan produksi yang banyak dan berkualitas, namun kendalanya sekarang adalah jenis bibit unggul tersebut cukup sulit didapat." Ungkap Wagimin.



Wagimin menambahkan penanaman kacang tanah dengan jenis unggul sebenarnya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu dengan luas penangkaran kacang tanah seluas sepuluh hektar dari bantuan provinsi dan lima hektar dari pemkab Tapin dengan harapan bisa memproduksi sebanyak dua ton perhektar.

Itupun ujar Wagimin belum bisa memenuhi kebutuhan kacang tanah yang hingga kini terus meningkat.

Beberapa kawasan yang potensial dalam pengembangan budidaya kacang tanah di Tapin adalah Desa Miawa kecamatan Piani, Kecamatan Binuang, dan Kecamatan Hatungun yang cukup terkenal dengan rasanya yang manis.

Sementara itu, untuk produksi kacang tanah di Tapin saat ini merupakan pemasok terbesar kedua di Kalimantan Selatan setelah kabupaten Kotabaru./et*C. 


Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026