"Kabupaten Balangan baru terbentuk sejak 2004 dan mulai saat itu kita langsung memprogramkan kegiatan reboisasi kawasan hutan," ujarnya di Paringin, ibu kota Balangan, Jumat.
Tercatat sejak 2004 lalu telah dilakukan kegiatan reboisasi di kawasan hutan rakyat seluas 1.170 hektare, 800 hektare di kawasan hutan lindung dan 725 hektare di kawasan hutan produksi.
Selain itu juga telah dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan di luar kawasan seluas 50 ektare dan 50 hektare lagi di kawasan hutan rakyat yang saat ini sedang dalam tahap perencanaan.
"Itu belum termasuk reboisasi yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam bentuk pembagian bibit tanaman," katanya.
Untuk pembagian bibit tanaman dengan tujuan reboisasi telah dilakukan penanaman hutan cadangan pangan sebanyak 400 pohon, demplot gaharu sebanyak 600 pohon dan penanaman serentak pada gerakan Indonesia Mmnanam sebanyak 37.680 pohon.
Pada tahun 2010 telah pula diprogramkan pembagian demplot gaharu dan rotan untuk lahan seluas sembilan hektare, 13 hektare bibit gaharu dengan sistem persemaian dan tiga unit bibit karet sejumlah 150.000 pohon.
Selain itu, juga telah dilakukan upaya peremajaan tanaman karet dengan total luasan lahan sebanyak 6.154 hektare.
"Bila mengacu pada luasan lahan kritis di Balangan target reboisasi yang harus dilakukan mestinya seluas 200 hektare pertahun," tambahnya.
Namun target tersebut tidak dapat direalisasikan karena terkendala anggaran dana yang diperuntukkan bagi kegiatan itu.
Reboisasi yang dilakukan juga terpaksa mencampurkan antara tanaman kayu hutan dengan tanaman perkebunan seperti karet, meski tanaman itu hanya memiliki daya serap air antara 45 - 47 persen.
Hal itu dilakukan karena tanaman karet lebih diminati dibanding tanaman kayu hutan yang telah diprogramkan.
"Setidaknya melalui peremajaan tanaman karet telah menambah jumlah tanaman untuk memperkuat lapisan atas tanah," demikian Amirul.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.