Perum Bulog Kalimantan Selatan (Kalsel) agaknya kesulitan membeli beras petani lantaran penetapan Harga Pokok Penjualan (HPP) gabah yang ditetapkan Bulog lebih rendah dari harga di pasaran.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Sriyono di Banjarmasin Rabu, menanggapi pernyataan Bulog yang mengatakan hingga kini penghimpunan beras Bulog baru mencapai 8 ribu ton dari target 20 ribu ton.
"Saya tidak tau pasti apa yang terjadi, namun harga pasar beras petani terus naik seiring kenaikan HPP Bulog," katanya.
Sebagai contoh, pada awal 2011 HPP beras Bulog ditentukan sebesar Rp5.060 per kilogram dan pada saat itu harga di pasaran sudah hampir Rp6.000 per kilogram.
Kemudian pemerintah mengeluarkan Inpres no.8 tahun 2011 yang memberikan kewenangan kepada Bulog agar penghimpunan beras petani disesuaikan dengan harga pasar.
Berdasarkan ketentuan tersebut, Bulog menentukan harga beras diatas harga pasar menjadi Rp6.100 per kilogram dan ternyata kini harga pasar sebesar Rp6.150 sampai Rp6.200 per kilogram.
Dengan masih tingginya harga beras di pasaran maka sebagian besar petani masih memilih untuk menjual beras ke pasar atau tengkulak daripada harus menjual ke Bulog.
Kabid Pelayanan Publik Bulog Devisi Regional Kalsel Syaifuddin mengatakan, saat ini penghimpunan beras Kalsel mencapai 8 ribu ton dari target yang ditetapkan 20 ribu ton.
Diharapkan dengan waktu tersisa, target tersebut bisa tercapai mengingat saat ini beberapa kabupaten yang menjadi lumbung padi Kalsel sedang panen.
Saat ini, kata dia, dalam setiap harinya pihaknya mampu menghimpun beras antara 100-125 ton beras, sehingga diharapkan hingga Desember 2011 target tersebut masih bisa terkejar.
Kendati masih jauh dari target, kata dia, penghimpunan beras Bulog Kalsel masih berada di posisi sembilan secara nasional.
"Jadi posisi stok pangan Kalsel masih lebih baik dibanding daerah lain," katanya.
Sementara data dari Ketahanan Pangan, saat ini harga beras lokal di Kalsel menempati titik terendah yaitu hanya Rp105 ribu - Rp107 ribu per blek./B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.