Pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan terkendala banjir pada saat musim hujan dan kekeringan pada saat musim kemarau panjang.
Ketua Kelompok Tani kerbau rawa satu Kecamatan Bati-bati Gufrani mengatakan hal itu dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisna Mukti di Kecamtan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut, Kamis.
Menurut Gufrani pada saat musim penghujan, lokasi kerbau rawa atau kerbau kalang di daerahnya selalu direndam banjir sehintgga membuat beberapa anak kerbau yang baru dilahirkan mati karena kedinginan.
"Anak kerbau yang dilahirkan pada saat musim penghujan biasanya langsung jatuh ke air sehingga kedinginan dan mati," katanya.
Sebaliknya, pada saat kemarau banyak kerbau kehilangan tempat berkubang sehingga harus pindah lokasi untuk bisa mendapatkan air dan makanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Bahkan kata dia, tidak jarang karena keterbatasan makanan pada musim kemarau, membuat kerbau "nekat" memakan tanaman petani lain, sehingga mereka menuntut ganti rugi kepada pemilik kerbau.
"Kendala-kendala tersebut kami harapkan bisa mendapatkan perhatian pemerintah," katanya.
Sementara peternak lain juga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya kesulitan untuk bisa menjual daging kerbau karena pasarnya masih sangat terbatas dan kalah bersaing dengan daging sapi.
Menanggapi hal tersebut, Bayu mengatakan akan membawa berbagai persoalan tersebut kedalam rapat yang bakal dilakukan dengan para pakar dan ahli dibidangnya.
"Saya yakin seluruh persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan baik asalkan ada kemauan dan semangat," katanya.
Misalnya saja, kerbau betina yang hamil bisa dibuatkan kandang yang lebih tinggi atau kandang panggung, sehingga pada saat anaknya lahir tidak langsung jatuh ke air, tetapi tetap ke tempat kering dan nyaman yang disediakan.
Tentang pemasaran, kata dia, perlu dicarikan teknologi untuk pengembangan ternak kerbau sehingga harganya lebih murah dibanding harga daging sapi.
Menurut dia, peminat harga daging kerbau saat ini memang belum terlalu besar, karena harganya hampir sama dengan harga daging sapi, padahal sebagian besara warga lebih menyukai daging sapi.
Agar bisa bersaing, kata dia, maka harga daging kerbau harus lebih murah, dan untuk itu perlu dicarikan jalan keluarnya.
Selain itu, tambah Bayu, jumlah dagaing kerbau relatif masih cukup kecil, sehingga belum memiliki pasar dengan jumlah besar.
"Kalau memang jumlahnya besar, pemerintah bisa menawarkan untuk diekspor atau ditawarkan ke perusahaan pengolahan daging," katanya.
Tetapi saat ini jumlah ternak kerbau masih relatif kecil, sehingga sulit untuk mencari pasar yang tepat, apalagi saat ini populasinya baru cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal.
"Hal-hal tersebut diatas akan menjadi bahasan utama kami besuk," katanya./B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.